Tafsir Buya Hamka
“Demi malam, apabila dia kelam.” (ayat 1).
Untuk menarik perhatian lagi
bagaimana pentingnya malam bagi kehidupan manusia, untuk istirahat,
untuk zikir dan tafakkur;
“Demi siang, apabila dia terang.” (ayat 2).
Apabila malam telah habis, fajar mulai menyingsing, kemudian diiringi
oleh terbitnya matahari, maka hari pun sianglah. Dalam pergantian siang
dan malam itulah manusia hidup, sebagaimana yang telah diterangkan juga
pada Surat-surat yang lain. Lebih jelas lagi pembahagian itu dalam Surat
78, An-Naba’.
“Demi yang telah menciptakan laki-laki dan perempuan.” (ayat 3).
Atau
yang pada mulanya sekali telah menciptakan Adam dan Hawa. Daripada
kedua laki-laki dan perempuan itulah berkembang manusia di permukaan
jagat ini, menjadi bangsa-bangsa, suku bangsa dan perkauman.
“Sesungguhnya usaha kamu itu bermacam-macam.” (ayat 4).
Berkembang-biaklah laki-laki dan perempuan di muka bumi ini, hidup dalam
pergantian di antara siang dan malam. Di waktu siang mereka berjalan,
berusaha dan bekerja mengambil manfaat yang telah disediakan Allah.
Usaha itu bermacam-macam menurut pembawaan, bakat dan menurut yang
dipusakai dari lingkungan orang tua atau iklim tempat tinggal. Ada yang
menjadi petani, saudagar, menjadi pelaksana pemerintahan dalam suatu
masyarakat yang teratur dan ada pula yang menjadi penjaga keamanan
Negara. Bermacam-macam, bersilang siur mata usaha manusia. Semuanya
penting, yang satu berkehendak kepada yang lain. Maka tidaklah ada
pekerjaan atau usaha yang hina, bahkan semuanya mulia dan baik, asal
dilaksanakan menurut garis-garis yang telah ditentukan Tuhan, yaitu
mengambil yang manfaat dan menjauhi yang mudharat.
Ketahuilah bahwa segala usaha manusia adalah mempunyai dua tujuan,
yaitu keduanya sama pentingnya, dan kait-berkait di antara satu dengan
yang lain. Usaha yang kita hadapi niscaya berdasar khidmat kepada sesama
manusia. Asal khidmat kepada sesama manusia itu kita sadari, niscaya
sesama manusia pun menghargai usaha kita itu. Sebab itu tidaklah ada
satu macam usaha yang hanya untuk kepentingan diri kita sendiri. Dan
tidak pula ada usaha yang hanya untuk kepentingan orang lain dan diri
sendiri hanya mengerjakan saja dengan tidak mendapat faedah.
Di ayat 10 diterangkan bahwa usaha manusia di dalam hidup
bermacam-macam, tidak sama. Tetapi meskipun usaha tidak sama, namun yang
menjadi pokok utama ialah sikap hidup itu sendiri:
“Adapun orang yang memberi dan bertakwa.” (ayat 5). “
Dan mengakui
akan adanya kebaikan.” (ayat 6).
Apa saja mata usahamu, entah saudagar atau tukang rumput. Jadi
Menteri atau jadi supir Menteri, jadi nelayan naik pecalang mengharung
lautan atau jadi nahkoda kapal berlayar menghadang gelombang di samudera
luas, jadi petani atau jadi buruh, semuanya itu adalah lumrah, karena
usaha memang bermacam-macam. Maka di dalam usaha yang bermacam-macam
itu, Tuhan Allah memberikan pedoman untuk keselamatan dirimu.
Di dalam
ketiga ayat ini bertemu tiga syarat yang harus kamu penuhi: (1) Suka
memberi kepada sesama manusia, suka berderma, menolong orang yang susah.
Itu adalah alamat hati terbuka. (2) Hendaklah takwa selalu kepada
Tuhan, pelihara hubungan dengan Tuhan pada malam dan pada siang, (3)
Mengakui adanya nilai-nilai yang baik dalam dunia ini, yang terpuji oleh
sesama manusia. Kalau ketiganya ini telah dipegang teguh, pemurah,
takwa dan menjunjung tinggi kebaikan, diberilah jaminan atau janji oleh
Tuhan:
“Maka akan Kami mudahkan dia ke jalan yang mudah.” (ayat 7).
Artinya akan dilapangkan Allah dada menghadapi perjalanan hidup itu;
teguh pertalian jiwa dengan sesama manusia dan teguh pula pertalian jiwa
dengan Allah. Dan ilham atau petunjuk akan selalu diberikan oleh Tuhan,
sehingga segala langkah maju di dalam hidup itu tidak ada yang sukar.
Artinya meskipun ada kesukaran terbelintang di hadapan, akan ada-ada
saja petunjuk Tuhan untuk mengatasi kesukaran itu.
Melihat kepada jalan yang digariskan Allah dengan ketiga ayat ini,
kita diberi peringatan bahwa kekayaan batin sejati ialah shilatur-rahmi
dengan masyarakat, takwa kepada Allah dan cinta akan kebaikan. Bukanlah
kekayaan itu rumah gedung bagus, kendaraan indah mengkilap, pangkat
tinggi membumbung, disegani orang ke mana pergi. Itu belum tentu
kekayaan, kalau ketiga kekayaan batin tadi tidak ada. Dan ini dijelaskan
pada ayat-ayat yang selanjutnya:
“Dan adapun barangsiapa yang bakhil dan merasa segala cukup.” (ayat 8).
“Dan mendustakan adanya kebaikan.” (ayat 9).
Di sini terdapat pula
tiga hal yang akan membawa celaka: (1) Bakhil, yaitu tidak mau
mengeluarkan harta-benda untuk menolong orang yang patut ditolong. Tidak
mau mempergunakan harta untuk berbuat amal jariah. Sebab hidupnya telah
dipukau oleh harta itu sendiri. Orang mengumpul harta ialah untuk
dikuasainya. Tetapi si bakhil mengumpulkan harta untuk dikuasai oleh
harta itu sendiri, sehingga hatinya jadi tertutup, tidak mengenal kasih
sayang, tidak mengenal shilatur-rahmi. (2) Merasa segala cukup kita
pakai menjadi arti dari kalimat istaghnaa. Yaitu orang-orang yang
mengurung diri karena takut kena! Kadang-kadang dia kurang senang
menerima pertolongan orang, karena takut kalau-kalau nanti terpaksa
membalas budi dengan menolong pula. Sebagai kelanjutan dari keruntuhan
jiwa dengan penyakit itu, ialah datangnya penyakit ketiga, yaitu (3)
Mendustakan adanya kebaikan. Dia tidak mempercayai bahwa di dunia ini
ada nilai-nilai kebaikan. Kebaikan hubungan sesama manusia dan kebaikan
hubungan dengan Allah, dan kebaikan yang ditemui di dunia ini diharapkan
akan ditemui pula di akhirat.
Di ayat 6 dan ayat 9 bertemu perkataan Al-Husnaa yang kita artikan
kebaikan. Menurut tafsir Al-Qasyani mengakui betapa pentingnya Al-Husnaa
atau kebaikan itu ialah “melakukan dalam kenyataan apa yang telah
dirasakan dalam hati.” Artinya bahwa semua orang memang merasakan dalam
hati bahwa berbuat baik memang baik. Tetapi tidaklah semua orang sanggup
mengerjakannya. Walaupun orang yang bakhil itu sendiri mengakui dalam
hatinya bahwa berbuat baik adalah satu budi yang luhur, namun dia tidak
mau membuatnya dalam kenyataan, karena sudah jadi “penyakit” dalam
jiwanya. Sebab itu maka perbuatannya ialah mendustakan!
“Maka akan Kami
mudahkan dia ke jalan yang sukar.” (ayat 10).
Artinya, setiap dicoba
melangkah, hanyalah kesukaran jua yang bertemu, yaitu kesukaran kenaikan
jiwa.
“Dijadikan Tuhan dadanya sangat sempit, seperti orang yang mencoba hendak naik ke langit.”
Syaikh Muhammad Abduh menulis arti mudahnya ialah menuju kesukaran;
tiap melangkah bukan membawa naik, melainkan membawa jatuh, tertutup
jalan kemanusiaan dan jatuh derajat rendah kebinatangan, sampai
bergelimang dengan dosa-dosa:
“Dan tidaklah hartanya akan dapat menolong
dia, jika dia terjerumus.” (ayat 11).
Hendak bangkit kembali dari dalam
gelimangan dosa, atau kejahatan meruah karena bakhil itu, tidaklah
dapat ditebus dengan harta yang selama ini disimpan itu. Karena sudah
terlambat. Fikir dahulu pendapatan sesal kemudian tak ada lagi gunanya.
“Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah menunjukkan jalan.” (ayat 12).
Ayat ini adalah penguat dari yang telah diterangkan sebelumnya. Artinya
tiadalah patut manusia itu berjalan menuju kesukaran. Bakhil dan merasa
cukup sendiri lalu mengurung diri dan tiap datang seruan kebaikan
didustakan. Sebab Tuhan telah memberikan tuntunan-Nya. Tuhan telah
mengutus Rasul-rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya. Tiada kurangnya
lagi. Dan di dalam diri sendiri sudah disediakan Allah alat penimbang,
yaitu akal.
“Dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia.” (ayat 13).
Tuhan menjelaskan hal ini, supaya manusia jangan lupa bahwa manusia
tidaklah mempunyai kekuasaan berbuat sesuka hati dalam dunia fana ini.
Manusia mesti patuh, karena akhirat dan dunia itu Allah Yang Maha
Menguasainya. Lebih baiklah tunduk daripada berkeras kepala.
“Maka Aku ancam kamu dengan api yang bernyala-nyala.” (ayat 14).
“Yang
tidak akan terpanggang padanya, kecuali orang yang paling celaka.”
(ayat 15).
Lalu dijelaskan pada ayat berikutnya siapakah orang yang
paling celaka itu, yaitu:
“Yang mendustakan dan membelakang.” (ayat 16).
Bersualah dalam ayat ini dua perangai yang menyebabkan orang jadi
paling celaka. (1) mendustakan, (2) membelakang. Arti mendustakan ialah
dia tidak mau menerima ajakan kebenaran itu. Dipandangnya semua omong
kosong belaka. Kemudian itu dia membelakang, punggungnya yang
diberikannya, karena sombongnya. Hanya dipandangnya hina saja Rasulullah
yang menyampaikan petunjuk-petunjuk Tuhan. Ini yang diungkap pada
pepatah Melayu: “Bersutan di mata, beraja di hati.” Seakan-akan dia
merasa dirinya lebih tinggi dan Rasul-rasul itu hina belaka. Dan
sabda-sabda Tuhan itu omong kosong, dan mereka benar sendiri! Sebab itu
sudah sepantasnyalah api neraka yang bernyala-nyala tempat mereka.
“Dan akan dijauhkan dia.” (pangkal ayat 17).
Artinya akan dijauhkanlah
api neraka yang bernyala-nyala itu: “Daripada orang yang paling
bertakwa.” (ujung ayat 17).
Api itu tidak akan didekatkan, melainkan
akan dijauhkan dari orang-orang bertakwa, yaitu yang selalu berbakti
kepada Allah. Yaitu tidak putus hubungannya dengan Tuhan dan
terpelihara. Karena hidupnya telah disediakannya menempuh jalan yang
benar.
“Yang memberikan hartanya karena ingin membersihkan.” (ayat 18).
Bukti yang utama dari bakti ialah suka memberikan harta, suka
mengeluarkannya. Jangan bakhil, jangan kedekut dan kikir. Diri sendiri
dibersihkan daripada penyakit kotor pada jiwa: yaitu penyakit bakhil.
Dan harta itu sendiri pun dibersihkan dengan jalan mengeluarkan bahagian
yang patut diterima oleh fakir dan miskin. Meskipun di Makkah belum
turun peraturan beberapa zakat meski dibayar, berapa yang satu nishab
dalam edaran satu tahun (haul), namun sejak dari masa Makkah itu
pendidikan jiwa kepada bederma telah dilatih.
“Padahal tidak ada padanya
budi seseorang yang hendak dibalas.” (ayat 19).
Artinya seketika dia mengeluarkan sebahagian dari harta-bendanya
untuk pembantu orang lain, benar-benar timbul dari hati yang suci.
Bukanlah dia mau mengeluarkan harta karena dahulu orang yang sekarang
diberinya itu pernah berjasa kepadanya. Dan kalau tidak karena membalas
jasa, tidaklah hartanya akan dikeluarkannya. Dan jangan pula memberi
karena menghadap lain hari orang itu akan membalas jasa pula. Hendaklah
karena Allah semata-mata. Inilah orang yang dikatakan paling bertakwa.
“Melainkan hanya karena mengharapkan wajah Tuhannya Yang Maha Tinggi.”
(ayat 20).
Orang yang mengeluarkan hartabenda untuk mensucikan batin,
tidak mengharap balasan manusia, hanya mengharapkan Ridha Allah, itulah
orang yang akan dijauhkan daripada api neraka yang bernyala-nyala itu.
“Dan akan Ridhalah Dia.” (ayat 21).
Dengan ayat penutup ini Tuhan
telah menegaskan bahwa amal orang itu diterima Tuhan, Tuhan Ridha.
Sebagaimana telah kita ketahui dalam beberapa ayat di dalam
Al-Qur’an, Ridha Tuhan adalah puncak nikmat yang akan dicapai oleh hamba
Allah di dalam syurga kelak. Bahkan tidaklah ada artinya syurga itu
kalau tidak disertai Ridha Tuhan. Dan ridha Tuhan itu adalah balasan
yang sudah sepantasnya bagi seorang hamba Allah yang telah menyediakan
dirinya menyambut dan mengerjakan perintah-perintah Tuhan yang telah
dipimpinkan oleh Rasul-rasul.
Ibnu Jarir menafsirkan ayat: “Dan akan Ridhalah Dia.” Artinya: “Allah
akan ridha kepada orang yang telah memberikan hartanya ini untuk
menunaikan hak Allah ‘azza wa jalla. Sebab dia telah menzakatkan, telah
membersihkan harta dan hatinya, maka dia akan menerima ganjarannya di
akhirat kelak, sebagai ganti barang yang dikeluarkannya di dunia itu
setelah dia bertemu dengan Tuhan kelak. Maka di dalam ayat ini
tersimpanlah sebuah janji yang mulia, bahwa si hamba itu akan mendapat
sekalian yang diinginkannya dengan sempurna dan indahnya.”
Menurut Ibnu Katsir dalam tafsirnya, bukan seorang dua ahli tafsir
mengatakan bahwa ayat yang jadi pimpinan umum bagi seluruh orang yang
beriman ini telah bertemu pada diri sahabat Rasulullah SAW yang amat
utama, yaitu Abu Bakar Shiddiq. Bahkan ada juga orang mengatakan bahwa
ayat-ayat ini diturunkan menuju Abu Bakar adalah sama pendapat seluruh
ahli tafsir. Dia membenarkan dan menerima seruan Rasul dengan jujur,
dengan tidak ada sisa keraguan barang sedikit pun sejak semula dia
memeluk Islam. Dia seorang yang takwa kepada Allah dan seorang yang
sangat pemurah. Hartabendanya dikeluarkannya untuk menyatakan taat
kepada Allah dan untuk membela junjungannya Nabi kita Muhammad SAW.
Tidak diperhitungkannya berapa dinarnya habis, berapa dirhamnya keluar
untuk mengharapkan wajah Allah. Dan perbuatannya itu sekali-kali bukan
karena membalas jasa orang kepadanya, melainkan dialah yang berjasa
kepada orang. Seluruh kepala-kepala kabilah merasakan bekas baik
budinya. Sehingga ‘Urwah bin Mas’ud kepala kabilah Tsaqiif dalam
Perdamaian Hudaibiyah mengakui terus-terang bahwa hatinya sudi memeluk
Islam, tetapi jangan hendaknya karena segan kepada Abu Bakar, karena dia
merasa berhutang budi kepada Abu Bakar. Dan dialah yang membeli Bilal
yang telah disiksa oleh pengulunya Umaiyah bin Khalaf ketika Bilal
dijemur di atas pasir panas. Dan setelah dibelinya langsung
dimerdekakaknnya. Padahal di saat itu kaum Muslimin masih sangat
sengsara karena aniayaan orang Quraisy. Dia yang menemani Nabi SAW
seketika hijrah ke Madinah. Dan sebelum itu dia pula yang terlebih
dahulu menyatakan saya percaya seketika Nabi mengatakan bahwa tadi malam
beliau Isra’ dan Mi’raj. Sehingga Nabi SAW pernah mengatakan:
Sesungguhnya manusia yang paling menyenangkan kepadaku karena bersahabat dengan dia beserta hartanya ialah Abu Bakar. Kalau ada dalam kalangan ummatku orang yang akan kujadikan khalil (teman sangat karib), Abu Bakarlah yang akan aku ambil kecuali pertemanan Islam.
(Riwayat Bukhari dan Muslim)
Sungguhpun ahli-ahli tafsir telah menyatakan bahwa ayat-ayat ini
menyatakan keperibadian Abu Bakar, namun dia bukanlah berarti tertutup
untuk yang lain; menegakkan semangat dermawan, takwa kepada Allah dan
menyukai kebaikan. Dan melatih diri supaya terjauh daripada perangai
bakhil dan merasa diri cukup dan mendustakan kebaikan. Moga-moga kita
semua pun dapat menurutinya.
Comments
Post a Comment
Silahkan isi komentarnya ^^!