Skip to main content

Research

Keluhan selama berkecimpung didunia riset di universitas.
Nomor 3 bener banget. Sulit sekali kalau belum punya NIDN.
Tapi maju terus... dosen adalah profesi paling menyenangkan dan menantang.
Ni repost 5 point yang krusial dulu yang saya setuju banget sama si penulis

1. Insentif publikasi dengan mempertimbangkan IF (impact factor) sesuai bidang ilmu.
Insentif publikasi sudah berjalan dengan baik. Menurut saya, insentif publikasi di Indonesia cukup tinggi dibandingkan dengan Filipina atau Thailand. Meskipun demikian, pemberian insentif publikasi tidak mempertimbangkan perbedaan yang cukup mendasar antar bidang ilmu. Sebagai contoh, LPDP memberikan insentif publikasi untuk paper yang terbit di jurnal internasional dengan memberikan dua pilihan saja: IF (impact factor) > 0.1 mendapatkan 50 juta dan IF > 5 mendapatkan 100 juta. 
Tentunya, kalau kita mau jujur, kontribusi keilmuan bidang studi yang berbeda tidak bisa diukur dengan membandingkan vis-a-vis IF jurnal bidang studi tersebut. Sangat tidak adil membandingkan kontribusi keilmuan bidang computer science dan kedokteran kalau hanya diukur dari IF-nya saja. Jurnal-jurnal computer science terbit setiap bulan. Dalam setahun, bisa jadi ada 12 edisi dalam satu volume. Satu paper belum sempat disitasi, bulan depan sudah terbit paper baru. Akibatnya, IF jurnal-jurnal computer science sangat sulit untuk mencapai IF lebih dari 5.  Sementara jurnal kedokteran biasanya sekali atau dua kali dalam setahun. Umur sebuah paper beredar di kalangan peneliti cukup lama untuk membuka peluang adanya sitasi.

Lalu bagaimana solusinya? Cobalah berdiskusi dengan tim khusus yang ahli dalam hal ini. Saya sendiri menyarankan, ada klasifikasi yang jelas untuk setiap bidang ilmu. Mengukur tingkat kontribusi dalam sebuah paper bukan hal gampang, tapi hal ini bukan hal yang tidak mungkin untuk dilakukan.

2. Penyederhanaan administrasi hibah penelitian
Dalam dua tahun ini, saya mengurusi dua buah grant internasional dari Eropa dan Jepang. Satu grant mobilitas peneliti, dan satu lagi grant penelitian selama dua tahun. Saya mencoba membandingkan prosedur administrasi grant tersebut dengan hibah dari pemerintah Indonesia. Ternyata, beberapa rekan dosen yang menerima hibah dari pemerintah Indonesia cukup ‘puyeng’ juga dengan administrasi yang harus dikerjakan. Saya tidak bisa menceritakan secara detail di sini, tapi pada intinya semua berawal dari mekanisme ketidakpercayaan. Default-nya, pengguna uang negara dianggap berpotensi melakukan kecurangan, kecuali yang tidak. Default-nya, semua harus siap jika diaudit. Sementara hibah dari luar negeri berkata sebaliknya: default-nya, pengguna dana hibah dianggap jujur, kecuali yang tidak. Nah, perbedaan cara pandang ini tentunya berakibat pada rumitnya prosedur birokrasi yang harus dijalani oleh peneliti. Bagaimanakah solusinya? Dari sisi peneliti sebaiknya berusaha menjaga kepercayaan pemberi hibah. Dari sisi pemberi hibah sebaiknya berusaha mengubah pola pikir yang mendasari semua proses birokrasi yang mendasari hibah tersebut.

3. Hibah peneliti muda: early career grant
Hibah penelitian sebaiknya diklasifikasikan juga menurut jenjang karir peneliti yang bersangkutan. Peneliti yang berpengalaman dalam mendapatkan hibah tentunya memiliki peluang yang lebih besar dibandingkan dengan peneliti yang baru saja lulus S-3, misalnya. Mengapa? Track record-nya berbeda jauh. Jumlah publikasi, pengalaman penelitian, besaran dana hibah yang pernah didapatkan, akan mempengaruhi kecenderungan para juri untuk memilih peneliti senior daripada peneliti-peneliti muda. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah Indonesia sebaiknya membuka hibah khusus untuk peneliti muda, atau lebih dikenal dengan Early Career Research Grant. Hal ini sangat membantu para lulusan S-3 untuk tetap berkembang setelah mereka pulang ke tanah air, dengan keterbatasan alat dan peluang mendapatkan dana hibah. Early Career Grant juga diharapkan tidak terlalu terpaku pada peraturan-peraturan formal yang mengharuskan seorang dosen  memiliki NIDN (Nomer Induk Dosen Nasional) atau NIP (Nomer Induk Pegawai), misalnya. Mengapa demikian? Sebab tidak semua lulusan S-3 yang pulang ke Indonesia otomatis menjadi PNS. Apakah mereka harus menunggu dulu sampai mempunyai NIDN dan NIP untuk melakukan penelitian?

4. Penghapusan atau pengurangan pajak untuk alat riset 
Menurut saya pajak di Indonesia tergolong sadis dalam penerapan tarifnya. Alat-alat penelitian yang diimpor dari luar negeri pun tetap dikenai pajak 25-30%. Ini berlaku untuk semua alat, baik yang disertai surat pengantar dari universitas maupun tidak. Lucunya, beberapa kolega saya lebih memilih mengimpor alat penelitian ke Singapura, lalu mengambilnya langsung dan dibawa ke Indonesia melalui bagasi pesawat. Lebih murah, kata mereka. Saya pun terpikir untuk melakukan hal yang sama, terutama jika membeli alat penelitian di atas 100 juta rupiah.

Masalah pajak import ini menjadi pukulan telak bagi peneliti-peneliti muda yang terbatas secara pendanaan. Tidak semua peneliti di Indonesia bisa melakukan penelitian hanya dengan melakukan simulasi di atas komputer. Sebagian besar peneliti di bidang kedokteran, biologi, dan bidang-bidang keteknikan lain membutuhkan alat untuk bisa melakukan penelitiannya dengan aman dan damai. Kebijakan pemerintah membebaskan pajak barang mewah semacam Tas Hermes dan Tas Louis Vuitton sangat menggelikan. Di sisi lain pemerintah berteriak bahwa penerimaan pajak tahun ini sangat minim. Bahkan pemerintah bertekad untuk terus menggenjot penerimaan pajak. Lalu siapa korbannya? Kitakah sebagai peneliti?

5. Mendorong berkembangnya komunitas penelitian internasional
Untuk mendapatkan pengakuan secara internasional, peneliti di Indonesia harus berkontribusi secara aktif di komunitas peneliti regional dan internasional. Tentunya, hal ini harus terus didorong oleh pemerintah sebagai pembuat dan pelaksana regulasi. Sebagai contoh kasus, saya belum lama ini berdiskusi dengan seorang staf dosen di Tampere University of Technology (TUT), Finlandia. TUT menilai tinggi dan sangat mengapresiasi keterlibatan staf dosen dalam mengorganisir scientific meeting(seminar, workshop), terutama jika aktivitas tersebut berskala international. Artinya, keaktifan dosen untuk berkiprah di komunitas internasional mendapat nilai angka kredit (kum) yang lumayan besar, disamping tentunya seberapa besar dana hibah yang diperoleh oleh staf dan berapa publikasi yang dihasilkan dalam setahun. Hal ini tentunya semakin menyemangati para staf dosen di TUT untuk berkiprah di dunia internasional dan juga mempopulerkan publikasi dan hasil riset mereka di kancah internasional. TUT juga saat ini bersemangat merekrut staf dosen asing, karena staf asing dinilai memiliki network / jaringan penelitian yang luas, yang dengan sendirinya akan memperbaiki profil universitas melalui hibah penelitian antar negara dan kolaborasi riset berskala internasional.
Sudah saatnya penilaian angka kredit (kum) di Indonesia juga mempertimbangkan hal-hal di bawah ini dengan porsi yang lebih tinggi dari yang ada saat ini:
  • Peran sebagai Editor in ChiefAssociate Editor, dan sebagainya di jurnal internasional
  • Peran sebagai reviewer di jurnal internasional
  • Peran sebagai committee seminar dan workshop internasional
  • Peran sebagai pengelola komunitas keilmuan internasional

Comments

Popular posts from this blog

Nine Month s

Medan sebuah kota yang tak pernah terbesit sebelumnya Sebuah kota maju kota metropolitan seperti Jakarta namun seperti ditinggalkan Bertemu dengan delapan mahasiswa  yang menjadi sahabat bagiku Membangun FKM bersama-sama Lalu datanglah Bahagia dan rintangan datang bergantian Hati dan pikiran semuanya termuara pada mereka Sampai segala puncak cobaan yang tak terbendung Perlakukan manusia zalim yg tak bisa tercena olah akal sehat Fitnah lalu lalang menghantam tak kunjung usai  Terkadang berbuat baik, tak mesti disambut gayung Malah lebih banyak ditiupkan ombak yg menerjang sampan kecil hingga terbalik Menoleh kembali perjuangan Rasulullah, Kehinaan ini tak seberapa dibandingkan dgn kisah sirah nabawiyah. Mencoba membingkai skenario Tuhan Hendak derajat mana yang akan dinaikkan Apakah harus melawan atau diamkan Bulir airmata menitik deras namun hanya sajadah dan AlQuran saksi kesendirian Hanya bertumpu pada keyakinan, akhir kisah ini, Allah pasti akan memb...

Adab Berdoanya Nabi Ibrahim (Qs Asy- Syuara)

Nabi Ibrahim 'Alaihisalam memulai do'anya dengan memuji Allah SWT Qs Asy- Syuara 78-82: " Allah lah yang menciptakan aku, maka Dia yang memberi petunjuk kepadaku (78) dan yang memberi makan dan minum kepada-ku, (79) dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku (80) dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali) (82) " Adapun do'a nabi Ibrahim kepada Allah tercatat dalam Al-Qur'an Surat Asy-syuara ayat 83 hingga 91 "Ya Tuhanku, berikanlah aku ilmu dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang soleh,  dan jadikanlah aku buah tutur kata yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mewarisi syurga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah ayahku, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna,...

Kualitas Pendidikan Di Indonesia

Ada 3 artikel bagus yg ditulis oleh Elizabeth Pisani tentang kualitas pendidikan di Indonesia. Pisani adalah jurnalis Reuters yg banyak menulis tentang Indonesia. Salah satu bukunya, 'Indonesia Etc', adalah buku bagus yg mendapat banyak pengakuan internasional Dalam tulisannya, Pisani menyoroti prestasi anak2 Indonesia dalam tes PISA. PISA adalah tes yg diadakan OECD untuk menguji kemampuan anak2 usia 15 tahun di puluhan negara dalam bidang sains (science), matematika (math) dan membaca (reading). Tes ini diadakan 3 tahun sekali. Di 2 tes terakhir pada tahun 2012 dan 2015, Indonesia mendapat peringkat 60-an dari 70 negara di ketiga bidang yg diujikan. Jauh di bawah negara2 tetangga di ASEAN seperti Thailand, Malaysia, Vietnam, apalagi Singapura. Contohnya: hasil tes 2015 menunjukkan, 55% anak Indonesia punya kemampuan sangat buruk di tes membaca. Semua soal tes PISA sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia loh padahal.. 😅 Reading comprehension mereka ternyata sangat rendah....