Assalamua’alaikum wr,wbHelow good people. Sedikit cerita pengalaman saya mengikuti kegiatan mulia yang berkesan badai yaitu Participant Rural Aprraisal atau disingkat dengan PRA, di Kabupaten Garut tepatnya Desa Kiaralawang. Kegiatan ini diadain oleh Creavil, Go Garut dengan bimbingan dari kakang-kakang ketceh salah satunya Kang agung .
Awalnya sih, saya mengira PRA itu semacam KKN gitu. Kenalan sama masyarakat terus bikin kenang-kenangan kayak bangun We Ce.Tapi ternyata ini bedah…Oke well… ceritanya akan saya mulai dari tiba di GarutSaya bertiga dengan teman-teman saya perwakilan dari Social Trust Fund UIN Jakarta datang ke Garut untuk menimba ilmu tentang PRA ini. Kita bertemu dengan teman-teman yang lain, yang juga menyukai kegiatan sosial dan berasal dari berbagai kampus. Mereka rata-rata berasal dari Garut. Sedangkan saya berasal dari Palembang dengan harapan ilmu PRA ini bisa saya terapkan untuk mengabdi didaerah asal saya.
Awalnya sih, saya mengira PRA itu semacam KKN gitu. Kenalan sama masyarakat terus bikin kenang-kenangan kayak bangun We Ce.Tapi ternyata ini bedah…Oke well… ceritanya akan saya mulai dari tiba di GarutSaya bertiga dengan teman-teman saya perwakilan dari Social Trust Fund UIN Jakarta datang ke Garut untuk menimba ilmu tentang PRA ini. Kita bertemu dengan teman-teman yang lain, yang juga menyukai kegiatan sosial dan berasal dari berbagai kampus. Mereka rata-rata berasal dari Garut. Sedangkan saya berasal dari Palembang dengan harapan ilmu PRA ini bisa saya terapkan untuk mengabdi didaerah asal saya.
Hari pertama dan kedua, kita diberikan training 11 tools tentang PRA. Intinya dari ke – 11 tools ini kita dituntut untuk memahami situasi dan kondisi real dari masyarakat. Mulai dari sejarah desa, transek desa, pola kehidupan, sampai dengan pandangan masyarakat tentang potensi dan hambatan yang ada didesa mereka.
Hari kedua, kita langsung terjun transek desa. Dalam transek ini, kita mengelilingi desa dan mencatat dengan detail penampilan fisik desa. Mulai dari letak rumah penduduk, jalan, perkebunan, industri, bahkan tipe tanah desapun harus dicatat.
Sedikit cerita yang kami dapatkan dari transek, bahwa desa Kiaralawang ini memiliki danau atau situ yang besar. Danau tersebut sekitar 80% tertutupi oleh enceng gondok. Kemudian, didesa ini terdapat satu pabrik packaging dodol, dan tanaman palawija yang sangat sedikit. Sekilas yang saya lihat kebanyakan penduduknya adalah wanita.
Sedikit cerita yang kami dapatkan dari transek, bahwa desa Kiaralawang ini memiliki danau atau situ yang besar. Danau tersebut sekitar 80% tertutupi oleh enceng gondok. Kemudian, didesa ini terdapat satu pabrik packaging dodol, dan tanaman palawija yang sangat sedikit. Sekilas yang saya lihat kebanyakan penduduknya adalah wanita.
Hari Ketiga, dan keempat kita melakukan FGD dengan warga setempat. FGD bertujuan untuk menggali informasi sebanyak-banyaknya tentang desa. Akan tetapi FGD ini juga berfungsi untuk menstimulus warga untuk memahami situasi dan kondisi desanya sendiri. Salah satunya yaitu mengenal potensi 5M (man, method, matherial, money, machine) desa mereka sendiri.
Hasil akhir dari PRA ini, yaitu warga desa menyadari potensi dan hambatan dari desa mereka. Kita sebagai fasilitator, merasa legah karena warga desa menyadari bahwa enceng gondok yang kita temukan pada saat transek desa adalah salah satu potensi terbesar didesa tersebut.
Tidak hanya sekedar FGD melulu, kita juga melakukan pendekatan dengan mengadakan games dan nonton bareng dengan anak-anak. Acara ini bertujuan agar pada saat kegiatan intervensi selanjutnya, masyarakat telah menerima keberadaan kita sebagai agent of change. Sehingga mereka mau bergabung untuk misi perubahan desa mereka sendiri.
Banyak hal yang berkesan. 5 hari di desa ini, saya digodok untuk memahami bahasa sunda. Artinya, dalam melakukan PRA penting memahami bahasa daerah setempat agar bisa berbaur dengan masyarakat. Kenapa penting? Misalnya pada saat acara games anak-anak, mereka memakai bahasa sunda. Waktu itu ada seorang bocah menanyakan seputar games dengan bahasa Sunda kepada saya. Saya hanya cengokdan mengatakan “oh iya..iya begitu bener.. “ . Ketika saya melihat raut muka anak tersebut nampaknya tidak puas dengan jawaban saya. Saya yakin bukan itu jawaban yang diharapkannya. Hehehe. Kemudian saya menyerahkan acara games ini kepada teman yang bisa berbahasa Sunda.
Beruntungnya warga disini masih bisa menggunakan bahasa Indonesia pada saat saya menjadi fasilitator untuk beberapa alat PRA. Bisa dibayangkan kalau melakukan PRA di desa yang mereka tidak bisa berbahasa Indonesia, dan tidak ada translator. Tentu saja akibatnya FGD tidak akan bisa berjalan.
Kemudian mengenai waktu. Pada saat FGD untuk alat terakhir, kita sempat telambat hanya 30 menit ke rumah Ibu RT. Alhasil, warga sudah bubar. Akhirnya kita menunggu kembali untuk warga datang dengan konsekuensi waktu kita kurangi selama 1 jam.
Waktu adalah hal yang krusial. Warga biasanya sudah memiliki jadwal aktifitas harian sendiri. Kita sebagai tamu, seharusnya menghargai waktu mereka tersebut, tanpa harus mengurangi kualitas dari FGD yang akan kita laksanakan. Oleh karena itu, penting untuk tepat waktu.
PRA ini menurut saya sangat luar biasa… berbeda dengan KKN yang selama ini dilakukan oleh mahasiswa kebanyakan. Saya sangat rekomended untuk kementrian pendidikan, atau rektor-rektor diberbagai universitas supaya model KKN yang berjalan saat ini bisa seperti PRA. PRA semacam ini adalah bentuk mini researchyang berguna untuk bahan pertimbangan pembuatan program agar efektif dalam membangun desa. Bukan sekedar mengajar, membangun fasilitas gono gini yang akhirnya tidak terawat karena bukan yang dibutuhkan warga.
Inilah model yang sesungguhnya dalam “pemberdayaan masyarakat”. Dimana, agent yang datang hanya sebatas fasilitator sedangkan masyarakat itu sendiri yang membangun.
Sudah seharusnya ada sebagian masyarakat muda, yang semangat bergerak dalam pergerakan desa atau daerah-daerah tertinggal. Bukan pemuda yang hanya bercita-cita sebagai karyawan, bekerja di perusahaan. Diharapkan juga kepada pemerintah daerah, memperhatikan dan memfasilitasi semangat para pemuda yang berniat mengabdi untuk daerah mereka.
Terimakasih banyak…
Kang Agung, yang telah memberikan saya kesempatan untuk belajar. Teman-temanSocial Trust Fund UIN Jakarta ceceu Hana, dan ceceu Isna. Serta teman luar biasa Edy, teh Arinten, teh Rina, dan Marko
Penulis : Zata Ismah
Comments
Post a Comment
Silahkan isi komentarnya ^^!