Skip to main content

Remake : SKM untuk Republik

Efek Globalisasi Dunia Dalam Kesehatan

Dua beban ganda kesehatan yang masih dihadapi oleh bangsa Indonesia menjadi masalah serius yang perlu menjadi perhatian oleh pada pemangku kebujakan di negri ini. Terlebih saat ini adanya penyakit lama yang muncul kembali menjadi hal yang perlu diwaspadai oleh masyarakat Indonesia. Permasalahan kesehatan yang terjadi Indonesia merupakan kejadian yang salah satunya disebabkan oleh adanya efek globalisasi dunia. Perubahan gaya hidup, bebasnya informasi yang didapat akan menyebabkan pergeseran budaya yang ada di Indonesia. Pergeseran budaya ini akan mempengaruhi pula perilaku kesehatan pada masyarakat umumnya.
Pada dasarnya, globalisasi diharapkan dapat meningkatkan sosial ekonomi dan mempengaruhi status derajat kesehatan suatu negara. Namun jika terjadi sebaliknya, efek globalisasi akan menimbulkan dampak negatif terhadap status derajat kesehatan masyarakat. WHO (World HeajfeeHealth Organisation) sebagai organisasi kesehatan dunia mengungkapkan bahwa setiap negara didunia hendaknya dapat mengidentifikasi efek globalisasi mana yang dapat berdampak negatif danberdampak positif.
ASEAN Free Trade Area (AFTA) merupakan salah satu efek adanya globalisasi yang terjadi di kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia. AFTA merupakan kerjasama bilateral maupun multilateral yeng menguntungkan secara ekonomi. Terdapat 4 sektor yang menjadi bagian kerjasama bilateral maupun multilateral ini yakni:
  1. Arus pasar bebas untuk barang dan jasa
  2. Arus pasar bebas untuk pembelian barang dan jasa di luar negeri
  3. Arus pasar bebas untuk investasi dan perdagangan
  4. Arus pasar bebas untuk bekerja secara professional melewati batas-batas Negara
Arus pasar bebas ini akan mempengaruhi pula akan mobilitas penduduk lintas negara. Adanya mobilisasi penduduk ini akan bepengaruh pula pada mobilitas penyakit terutama penyakit menular. Dalam jangka panjang, efek globalisasi ini akan berimbas pada penyakit tidak menular, hal ini dikarenakan adanya pergeseran budaya terutama dalam perilaku.

Rencana Strategis Kemenkes 2015-2019
  Pembangunan kesehatan masyarakat menjadi hal yang penting dalam upaya meningkatkan angka Indeks Pembangunan Manusia yang akan berimbas pada indikator negara maju. Perlu adanya kebijakan yang mengarah pada upaya kesehatan masyarakat untuk mendukung kemajuan suatu negara. Kebijakan mengenai penguatan upaya kesehatan masyarakat telah tertuang dalam Rencana Strategis Kementrian Kesehatan tahun 2015-2019. Namun perlu adanya kerjasama lintas sektor untuk mengawal rentra tersebut, mengingat kebijakan mengenai kesehatan telah berada dibawah naungan daerah/desentralisasi. Renstra Kemenkes ini diperkuat dengan adanya Rencana Pembanguanan Jangka Menengah Nasional tahun 2005-2025 bidang kesehatan. Dalam RPJMN tersebut nampak adanya penguatan pada sektor promotif dan preventif yang notabene menjadi upaya kesehatan berbasis masyarakat mengedepankan pemberdayaan masyarakat. Dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, Kementrian Kesehatan melakukan revitalisasi fungsi Puskesmas. Dalam revitalisasi fungsi Puskesmas tersebut terdapat 5 poin yang menjadi fokus utama Kementrian Kesehatan yakni
  1. Peningkatan Sumber Daya Manusia
  2. Peningkatan kemampuan teknis dan manajemen Puskesmas
  3. Peningkatan pembiayaan
  4. Peningkatan Sistem Informasi Puskesmas
  5. Pelaksanaan akreditasi Puskesmas
  Salah satu hal yang perlu menjadi perhatian para tenaga kesehatan yakni adanya upaya peningkatan sumber daya manusia. Melalui upaya peningkatan sumberdaya manusia yang tertuang dalam renstra tersebut Kementrian Kesehatan terebut, terdapat 5 jenis tenaga kesehatan yang menjadi prioritas yakni tenaga kesehatan masyarakat, kesehatan lingkungan, tenaga gizi, tenaga kefarmasian dan analis kesehatan. Pembagian kelompok jenis tenaga kesehatan yang menjadi prioritas Kemenkes ini telah tertuang dalam Undang-Undang (UU) Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan yakni sebagai berikut
  1. Jenis tenaga kesehatan yang termasuk dalam kelompok tenaga kesehatan masyarakat terdiri atas epidemiolog kesehatan, tenaga promosi kesehatan dan ilmu perilaku, pembimbing kesehatan kerja, tenaga administrasi dan kebijakan kesehatan, tenaga biostatistik dan kependudukan, serta tenaga kesehatan reproduksi dan keluarga
  2. Jenis tenaga kesehatan yang termasuk dalam kelompok tenaga kesehatan lingkungan terdiri atas sanitasi lingkungan, entomolog kesehatan dan mikrobiolog kesehatan.
  3. Jenis tenaga kesehatan yang termasuk dalam kelompok tenaga gizi terdiri atas nutrisionis dan dietisien
  4. Jenis tenaga kesehatan yang termasuk dalam kelompok tenaga kefarmasian terdiri atas apoteker dan tenaga teknis kefarmasian.
SKM hadir menjawab tantangan kesehatan bangsa
  Kebutuhan upaya promotif dan preventif menjadi hal yang wajib untuk dilaksanakan dan menjadi prioritas utama dalam pembangunan kesehatan. Hal ini dikarenakan upaya promotif dan preventif merupakan upaya yang cukup efektif dan efesien untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan kualitas sumber daya manusia. Upaya promotif dan preventif yang efektif sebaiknya dilakukan oleh masyarakat sendiri, sebab dengan adanya pemberdayaan masyarakat ini dapat menciptakan masyarakat yang mandiri dalam meningkatkan derajat kesehatannya. Tetapi karena tingkat pendidikan dan pengetahuan masyarakat yang berbeda beda, maka dari itu perlu adanya upaya peningkatan pengetahuan dan pendampingan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh tenaga kesehatan.
  Tenaga kesehatan yang paling dibutuhkan saat ini yakni tenaga kesehatan teknis yang dapat segera melakukan aktifitasnya dimasyarakat. Seorang Sarjana dirasa tepat dalam menyelesaikan permasalahan kesehatan ditingkat dasar, sebab seorang sarjana memiliki 4 dimensi keluaran seorang sarjana. Dalam Kerangka Kualifikasi Kurikulum Nasional Indonesia, seorang Sarjana ditempatkan pada posisi level 6, hal ini dimaksudkan untuk adanya batasan dimensi disetiap jenjangnya. Menurut Naskah Akademik Kesehatan Masyarakat, tedapat beberapa dimensi yang dapat dikuasai oleh seorang Sarjana yakni sebagai berikut
  1. Dimensi Ilmu : Seorang sarjana mampu mengaplikasikan bidang keahliannya dengan memanfaatkan IPTEKS pad bidangnya dalam menyelesaikan suatu masalah dan mampu beradaptasi terhadap situasi yang dihadapi
  2. Dimensi Penelitian : Menguasai konsep teoritis bidang pengetahuan tertentu secara umum dan konsep teoritis dalam bidang pengetahuan tersebut secara mendalam serta memformulasikannya penyelesaian masalah prosdural.
  3. Dimensi wawasan : Mampu mengambil keputusan berdasarkan data dan fakta serta mampu memberikan petunjuk dalam memilih berbagai alternatif solusi.
  4. Dimensi sikap :Mampu bertanggung jawab terhadap pekerjaannya sendiri dan dapat diberi tanggung jawab  atas pencapaian hasil kerja organisasi. Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) muncul untuk menjawab tantangan kesehatan masyarakat berbasis komunitas ini.
Sarjana Kesehatan Masyarakat lahir dari rahim kedokteran pencegahan yang dahulu bernama IKM-IKP (Ilmu Kesehatan Masyarakat-Ilmu Kedokteran Pencegahan) yang dibawah naungan Fakultas Kedokteran. Seiring berjalannya pendidikan Sarjana Kesehatan Masyarakat, terdapat 8 bidang ilmu yang terdapat pada dasar ilmu SKM yakni:
  1. Epidemiologi
  2. Administrasi Kebijakan Kesehatan
  3. Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku
  4. Biostatistik
  5. Gizi Kesehatan Masyarakat
  6. Kesehatan Lingkungan
  7. Kesehatan Reproduksi
  8. Kesehatan dan Keselamatan Kerja.
Dalam Naskah Akademik Kesehatan Masyarakat terdapat lingkup kerja yang diharapkan dan dimiliki oleh seorang SKM, lingkup kerja ini tidak dimiliki oleh tenaga kesehatan lainnya. Lingkup kerja SKM yakni sebagai berikut:
  1. Mampu melaksanakan pelayanan kesehatan masyarakat tingkat pertama dengan melakukan pengawasan status kesehatan, diagnosis dan investigasi masalah dan gangguan kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya.
  2. Mampu mengembangkan dan menerapkan kebijakan operasional dan perencanaan program untuk mendukung pelayanan kesehatan masyarakat tingkat pertama.
  3. Mampu melaksanakan pendidikan pemberdayaan masyarakat tentang kesehatan dan mobilisasi masyarakat untuk identifikasi dan mengatasi masalah kesehatan masyarakat di tingkat pertama.
  4. Mampu melaksanakan pengawasan dan pengendalian efektifitas, aksesibiltitas dan kualitas pelayana kesehatan masyarakat tingkat pertama.
  5. Mampu mengkomunikasikan hasil kerjanya kepada masyarakat dan pemangku kepentingan pelayanan kesehatan masyarakat tingkat pertama.
Perlu adanya kompetensi yang jelas untuk membedakan tenaga kesehatan satu dengan lainnya. Kompetensi tenaga kesehatan diperlukan untuk mebuat ciri khas kemampuan tenaga kesehatan dalam melakukan intervensi permasalahan kesehatan. Dalam sisi kompetensi seoramg sarjana kesehatan masyarakat, 8 kompetensi utama yang dimiliki oleh seorang SKM yakni:
  1. Mampu melakukan kajian dan analisis situasi
  2. Mampu mengembangkan kebijakan dan Perencanaan Program
  3. Mampu Berkomunikasi Secara Eefektif
  4. Mampu memahami budaya setempat
  5. Mampu melaksanakan pemberdayaan Masyarakat
  6. Memiliki penguasaan ilmu kesehatan masyarakat
  7. Mampu dalam merencanakan keuangan dan terampil dalam bidang manajemen
  8. Memiliki kemampuan kepemimpinan dan berfikir sistem.
    Melihat rumpun ilmu kesehatan masyarakat inilah maka tidak dapat dipungkiri seorang SKM merupakan Tenaga Kesehatan Masyarakat yang telah tertuang dalam Undang-Undang (UU) Nomor 36 tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan. Tidak dapat dipungkiri pula bahwa SKM merupakan prioritas utama dan menjadi bagian dalam revitalisasi Puskesmas yang tertuang dalam Renstra Kemenkes 2015-2019. Perlu adanya upaya-upaya pengawalan dalam rangka implementasi Renstra Kemenkes ini, baik dalam merumuskan kebijakan daerah seperti sistem kesehatan daerah (SKD) dalam upaya mengimplementasikan Peratuan Presiden No.72 tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Nasional (SKN) maupun kebijakan daerah/lokal terkait. Banyaknya kepentinganStakeholder dalam rangka desentralisasi dan otonomi daerah berdasarkan UU No. 23 tahun 2014 tentang Sistem Pemerintahan Daerah, bahkan otonomi desa melalui UU No. 6 tahun 2014 tentang Desa, selain juga harus memperhatikan UU no.36 tahun 2009 tentang Kesehatan dan UU No.36 tahun 2014 tentang Tenaga Kesahatan akan sangat dimungkinkan dapat mengubah arah haluan RPJMN 2015-2019 dan SKN no.72 tahun 2012 yang telah disyahkan dan ditetapkan sebagai acuan nasional dalam pembangunan kesehatan di daerah.
            Menurut badan kesehatan dunia (WHO), indikator keberhasilan pembangunan kesehatan delapan puluh persen (80%) ditentukan oleh sumber daya manusia (SDM) kesehatan. Oleh sebab itu, SKM adalah tenaga kesehatan masyarakat yang merupakan sub sistem SDM kesehatan dalam sistem kesehatan. Sebagai gambaran aplikatif, ada beberapa daerah yang dapat dijadikan contoh atau teladan dalam inovasi menyusun SKD yang melibatkan tenaga kesehatan masyarakat (SKM) di beberapa kebijakan daerahnya. Daaerah tersebut adalah Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta melalui Peraturan Daerah (Perda) Nomer 4 tahun 2009 tentang Sistem Kesehatan Daerah. Perda tersebut menjadi payung hukum tenaga kesehatan sekaligus menegaskan bahwa tenaga kesehatan masyarakat (penyuluh kesehatan masyarakat, ahli epidemiologi lapangan, dan ahli kesehatan masyarakat) menjadi salah kebutuhan tenaga kesehatan yang perlu diupayakan bersama dengan tenaga kesehatan lainya untuk menjadi tenaga kesehatan membantu Camat di Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) Kecamatan dan membantu Lurah untuk UKM tingkat Kelurahan.
            Selain DKI Jakarta, Kebijakan daerah yang secara tegas menempatkan jenis tenaga kesehatan masyarakat untuk mengisi pelayanan kesehatan tingkat primer di Desa dan Kecamatan dalam inovasi UKM bersama tenaga kesehatan lain adalah Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Hadirnya UU Desa No. 6  tahun 2014 memberikan kekuatan baru dalam era otonomi daerah sampai ke level desa, oleh karena itu diperlukan sebuah regulasi atau acuan pembangunan kesehatan didaerah sebagai deskripsi dan perpanjangan tangan SKN. Atas dasar analisis permasalahan dan kebutuhan, Kabupaten Wonosobo telah menyusun Sistem Kesehatan Daerah yang juga telah ditetapkan menjadi sebuah Perda No. 6 tahun 2014 tentang Sistem Kesehatan Daerah Kabupaten Wonosobo. Perda tersebut memiliki inovasi berupa Pos UKM di tingkat kecamatan dan Desa/Kelurahan yang setidaknya di isi oleh Jenis Tenaga Kesehatan Masayarakat selain tenaga kesehatan lain.
Demikian sedikit ulasan singkat mengenai peran dan fungsi SKM sebagai salah satu jenis tenaga kesehatan yang merupakan bagian sub sistem kesehatan dalam SDM Kesehatan sebagai salah satu komponen dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia.
Salam Sehat Public Health
1. Purwo Setiyo Nugroho, SKM. (Magister Epidemiologi, FKM Universitas Indonesia)
2. Agus Samsudrajat S, SKM. (Administrasi Kebijakan Kesehatan, MIKM Universitas Diponegoro)

sumber :
https://www.facebook.com/notes/10204580201208589/

Comments

  1. kalau di UI, kan ada beberapa prodi, saya bingung antara k3 atau ilmu kesehatan masyarakat. Ada yang bilang bahwa sarjana kesehatan masyarakat banyak menjadi pengangguran.. Saya jadi semakin bingung untuk memilih jurusan. menurut kakak, di Indonesia ini sedang butuh pekerja lulusan FKM prodi apa, sih, Kak? Lalu lebih bagus mana prodi untuk perempuan? prodi k3 atau ilmu kesehatan masyarakat?Mohon masukanya, Kak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mnurut pandangan kaka pribadi, smkin menjurus smkin baik.
      Jgn bngung2 ambil sj yg spesifik supaya lebih efisien.

      Semuanya dibutuhkan di Indonesia, nmun ad bbrpa lapak *instansi* yg belum ngeh sama jurusan di SKM.

      Klau mau cpet kerja y K3 atau KL, nnti dilapangan bs sbg safety yg kantoran aja.. Yg ngurus manajemen.
      Eh jgn slh anak MPk jg cepet loh kerja bagian managemen RS
      Anak gizi juga ada yg kepake di pt yg bergerak bidang gizi. (Namun kenyataan saingan berat sm gizi klinis)
      Klau epid kbnykn keterima di lembaga riset.

      Yaaa semua butuh kesabaran. tp spnjg pengamatan K3KL sm MPK pling cpt kerja.
      Tpi semuanya dpt kerja kok pada waktunya

      Delete
    2. Semangat yaaa ^^!
      Istikharah...

      Delete

Post a Comment

Silahkan isi komentarnya ^^!

Popular posts from this blog

Nine Month s

Medan sebuah kota yang tak pernah terbesit sebelumnya Sebuah kota maju kota metropolitan seperti Jakarta namun seperti ditinggalkan Bertemu dengan delapan mahasiswa  yang menjadi sahabat bagiku Membangun FKM bersama-sama Lalu datanglah Bahagia dan rintangan datang bergantian Hati dan pikiran semuanya termuara pada mereka Sampai segala puncak cobaan yang tak terbendung Perlakukan manusia zalim yg tak bisa tercena olah akal sehat Fitnah lalu lalang menghantam tak kunjung usai  Terkadang berbuat baik, tak mesti disambut gayung Malah lebih banyak ditiupkan ombak yg menerjang sampan kecil hingga terbalik Menoleh kembali perjuangan Rasulullah, Kehinaan ini tak seberapa dibandingkan dgn kisah sirah nabawiyah. Mencoba membingkai skenario Tuhan Hendak derajat mana yang akan dinaikkan Apakah harus melawan atau diamkan Bulir airmata menitik deras namun hanya sajadah dan AlQuran saksi kesendirian Hanya bertumpu pada keyakinan, akhir kisah ini, Allah pasti akan memb...

Adab Berdoanya Nabi Ibrahim (Qs Asy- Syuara)

Nabi Ibrahim 'Alaihisalam memulai do'anya dengan memuji Allah SWT Qs Asy- Syuara 78-82: " Allah lah yang menciptakan aku, maka Dia yang memberi petunjuk kepadaku (78) dan yang memberi makan dan minum kepada-ku, (79) dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku (80) dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali) (82) " Adapun do'a nabi Ibrahim kepada Allah tercatat dalam Al-Qur'an Surat Asy-syuara ayat 83 hingga 91 "Ya Tuhanku, berikanlah aku ilmu dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang soleh,  dan jadikanlah aku buah tutur kata yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mewarisi syurga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah ayahku, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna,...

Kualitas Pendidikan Di Indonesia

Ada 3 artikel bagus yg ditulis oleh Elizabeth Pisani tentang kualitas pendidikan di Indonesia. Pisani adalah jurnalis Reuters yg banyak menulis tentang Indonesia. Salah satu bukunya, 'Indonesia Etc', adalah buku bagus yg mendapat banyak pengakuan internasional Dalam tulisannya, Pisani menyoroti prestasi anak2 Indonesia dalam tes PISA. PISA adalah tes yg diadakan OECD untuk menguji kemampuan anak2 usia 15 tahun di puluhan negara dalam bidang sains (science), matematika (math) dan membaca (reading). Tes ini diadakan 3 tahun sekali. Di 2 tes terakhir pada tahun 2012 dan 2015, Indonesia mendapat peringkat 60-an dari 70 negara di ketiga bidang yg diujikan. Jauh di bawah negara2 tetangga di ASEAN seperti Thailand, Malaysia, Vietnam, apalagi Singapura. Contohnya: hasil tes 2015 menunjukkan, 55% anak Indonesia punya kemampuan sangat buruk di tes membaca. Semua soal tes PISA sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia loh padahal.. 😅 Reading comprehension mereka ternyata sangat rendah....