Perhatian : Mohon cantumkan sumber/referensi penulis jika mengutip

a. Pengertian

a. Pengertian
Menurut Cavello (2005) dalam Laux (2014)
krisis adalah sebuah keselamatan, kesehatan atau krisis lingkungan yang terjadi
secara tidak direncanakan yang memicu ancaman nyata untuk keselamatan,
kesehatan atau lingkungan atau reputasi atau kredibilitas dari suatu
organisasi. Beberapa macam bentuk krisis adalah : Natural Disasters, Fire, Explosions, Injuries & Accidents, Activist
Group Activities, Environmental Emergencies, Violations of the Law dan Lawsuits. Adapun tiga pokok besar
kegiatan dalam managemen krisis secara umum yaitu[1]:
1. Crisis
Prevention
2. Preparedness
3. Recovery
b.
Tindakan
Pencegahan Level Internasional
Dalam skala international, dunia telah
sepakat untuk berkomitmen bersama-sama mengurangi dampak green house dan global
warming. Salah satunya perjanjian Cap and
Trade System. Yaitu
perjanjian yang ditandatangani negara pada Protokol-Kyoto
dan EU ETS yang berisikan tentang pembelian kuota CO2, sulfur
dioxide dan nitrogen oxide. Dimana perusahaan harus membeli kuota gas emisi sebagai
hasil limbah pengolahan mereka, agar mereka dapat kembali berproduksi secara
efektif. Semakin besar perusahaan membuang emisi maka semakin banyak mereka
harus membeli kuota.2
Selain itu, adapula
perjanjian Clean Development Mechanism (CDM).
Perjanjian ini memungkinkan negara-negara industri untuk meningkatkan kuota
emisi . Sistem ini terdiri dari perusahaan-perusahaan Barat yang
berinvestasi dalam proyek di negara berkembang. Mereka "menyumbang"
kepada negara berkembang tersebut untuk mengurangi emisi karbon. Namun kedua
perjanjian ini memiliki kekurangan, dimana negara maju dapat berleluasa membeli
kuota dari negraa berkembang.[2]
Maxwell (2012) dalam
penelitiannya didapatkan perjanjian Cap and Trade System memiliki efek
positif. Dari perspektif ekonomi, kenaikan biaya energi seperti pemakaian
listrik, kenaikan harga BBM dapat mengurangi emisi dan polusi (tujuan inti dari
program cap-and-trade). Pengurangan
kecelakaan kerja karena penurunan permintaan tenaga kerja industri. Kemudian
mangemen dari Cap and Trade system
pada 4 emission offset projects-ozone
memiliki dampak positif pada kualitas udara, pengurangan panas, dan penyakit
kardiovaskular. Proyek emission offset
projects- ozone tersebut seperti manajemen pupuk kandang, proyek
pembangunan kehutanan di perkotaan, dan
penghijauan kehutanan.[3]
c.
Tindakan
Pencegahan Level Nasional
Isu manajemen krisis adalah berkaitan
dengan 1) isu-isu teknologi; 2) masalah subjektif dan budaya; dan 3) kritik
sosial.[4]
Dibidang teknologi, penelitian Vescoukis (2012), terdapat
teknologi yang dapat membantu dalam menghadapi pencegahan krisis berbasih
wilayah, yaitu arsitektur berbasis geospasial 3D. Teknologi berbasis sistem
informasi ini memberikan arsitektur fleksibel service untuk perencanaan dan
pengambilan dukungan dalam manajemen krisis lingkungan. Arsitektur disarankan
menggunakan real time set geospasial data dan alat presentasi 3D yang terintegrasi
dengan layanan yang memiliki nilai tambah, seperti model simulasi yang membantu
pengambilan keputusan dalam keadaan darurat. Kerangka arsitektur spasial ini
selain akan sangat berguna dalam mendukung sistem manajemen krisis,juga berguna
dalam memetakan kebakaran hutan.[5]
Dalam bidang subjektif dan budaya,
Penelitian Henriques (1999) menunjukkan bahwa perusahaan dengan profil yang
proaktif ternyata lebih berkomitmen dalam isu lingkungan dan tergantung dari
stakeholder perusahaan tersebut.[6]
Hasil penelitian Ritchie (2013) bahwa pemahaman
dan managemen insiden berikutnya oleh stakeholder akan dapat cepat teratasi,
melalui penyuluhan dan penerapan aplikasi krisis dan teori managemen dan konsep
dari multidisiplin. Ditambah dengan penelitian manajemen dan kerangka kerja.[7]
Dalam
kritik sosial biasanya ditekankan pada polusi yang dihasilkan oleh industri. Selain
CO2, jika sumber CH4 dan O3 dapat dikurangi di
masa depan, maka greenhouse gases (GHGs) non-CO2 dalam 50
tahun ke depan bisa menjadi mendekati nol. Kombinasi antara pengurangan emisi
karbon hitam dan memperlambat emisi CO2, pengurangan (GHGs) non-CO2
dapat menyebabkan penurunan laju pemanasan global, serta mengurangi bahaya
perubahan iklim yang signifikan. Penanganan polusi udara pada emisi ini punya
kelebihan praktis yang menyatukan kepentingan negara-negara maju dan
berkembang. Namun, penelitian ini kedepan membutuhkan komposisi-spesifik yang jangka
panjang dari monitoring global tentang sifat aerosol.[8]
No-tillage
(NT)
management juga diklaim sebagai praktik yang mampu mengimbangi gas rumah kaca
(GRK) karena kemampuannya untuk menyerap karbon dalam tanah. Namun mitigasi gas
rumah kaca melalui NT agriculture ini selain memerlukan waktu (10-20 tahun)
juga perlu pengamatan pada masing-masing sifat tanah.[9]
Dalam penelitian Chung (2011) di Cina
tentang manajemen krisis lingkungan didapatkan bahwa ciri khas dari pendekatan
negara China dalam situasi krisis adalah kemampuannya yang luar biasa untuk
memobilisasi sumber daya dengan cepat pada saat peristiwa bencana dan
mengalokasikan mereka ke tempat mereka dibutuhkan. Kemampuan manajemen krisis
China tersebut lebih mengesankan dibandingkan dengan orang-orang dari banyak
negara lain. Berikut beberapa manegemen Negara china dalam menghadapi krisis [10]
1. Melibatkan
militer
Dewan Negara dan Komisi Militer Pusat mengeluarkan
"Peraturan tentang Partisipasi Militer dalam Operasi Bantuan
Bencana,". CMC mengeluarkan "Rencana Darurat Umum oleh Militer untuk
Menghadapi Insiden yang tiba-tiba. Seperti di negara lain, ketika bencana
mencapai skala tertentu, hanya organisasi militer memiliki tenaga, peralatan,
dan struktur komando yang baik dalam merespon kebutuhan bencana. Di negara
China, lima unit tanggap darurat khusus
telah dibentuk untuk menangani banjir, gempa bumi, cemaran kimia,
biologi, radiologi dan insiden nuklir,
kecelakaan transportasi, dan respon bencana serta perdamaian tugas
internasional. Selain itu, militer tidak bekerja sendiri, militer juga
menekankan kerjasama dengan sipil yang disebut dengan program sipil-militer.
2. Peran
aktor non pemerintahan
Ada beberapa respon kesukarelaan dari sejumlah LSM
dari segi waktu dan uang. Kemudian campur tangan biksu dan biarawan lokal yang
menguasai bahasa lokal dalam membantu menangani krisis.
3. Pengurangan
Risiko
Cina banyak mengembangkan managemen yang berbasis
pada pengalaman bencana sebelumnya. Dalam menangani pasca bencana Cina mengadopsi “buddy system”. Yaitu masyarakat dari
provinsi lain yang tidak terkena bencana membantu pembangunan kota bencana.
Sehingga terjadi proses yang cepat dalam recovery kota. Seperti dalam
menghadapi kecelakaan industri dan tanah longsor di Zhouqu, yang sebagian
dikarenakan besar buatan manusia, masyarakat segera merecovery kota walaupun
konstruksi dan desain perkotaan yang
dibangun berkualitas buruk.
4. Asuransi
bencana
Asuransi bencana ini China lebih menekankan pada
kegunaan asuransi dalam upaya pencegahan dan mitigasi.
5. Pelatihan
Kepemimpinan
Sistem manajemen krisis harus cepat, tanggap dan
adaptable. Kemampuan untuk menanggapi kontinjensi diluar rencana, mengutamakan
kepemimpinan yang baik. Kepemimpinan yang efektif harus menjadi bagian dari
sumber daya manusia yang akan menangani krisis.
6. Pengembangan
manajemen capabilities krisis
Kemampuan untuk merespon secara kreatif pada proses
kontinjensi
7. Manajemen
Informasi
Rilis informasi harus "cepat dan tepat, terbuka
dan transparan. Dengan demikian, informasi yang disiarkan harus bebas dari
campur tangan politik dan mengandung isu yang dapat menambah kecemasan publik.
Informasi harus benar-benar menggambarkan keadaan sehingga masyarakat dapat
bersiaga.
8. Badan
Koordinasi Nasional
China memiliki kantor Manajemen Darurat didirikan
pada tahun 2005. Badan ini berfungsi sebagai manajemen krisis agency yang
memberikan koordinasi dalam mitigasi risiko pre-event dan persiapan krisis
serta pasca-event recovery.
9. Koordinasi Vertical
dan "Tiao-Kuai
Pejabat lokal merupakan bagian dari sistem
pemerintahan secara vertikal yang diselenggarakan secara akuntabilitas (tiao,
atau "cabang"). Pada saat yang sama, Partai Komunis di China
memberikan kepemimpinan terpadu di berbagai tingkat pemerintahan. Komite Partai
lokal juga mengawasi pejabat pemerintah daerah dalam sistem pengawasan
horizontal (dengan demikian, menciptakan Kuai, atau "bungkah"),
hubungan Partai-pemerintah, diharapkan jangan memperumit dan dapat
mengembangkan sistem manajemen krisis yang efektif.
d.
Tindakan
Pencegahan Level Individual
Perubahan perilaku
individu, dianggap penting dalam kontribusi mengurangi masalah lingkungan.[11]
Adapun yang bisa dilakukan oleh individu dalam krisis lingkungan seperti
berikut:
1.
Membangun
budaya rumah tropis. Rumah yang dibangun meliputi aspek iklim eksterior, adanya
tanaman, arsitek rumah yang berkontribusi pada konsumsi listrik/penghematan
konsumsi listrik.[12],[13]
2.
Memilihara
kehijauan daerah masing-masing teurtama melindungi lahan gambut. Lahan gambut
memiliki kandungan karbon yang besar, sehingga gambut berperan sangat penting
sebagai pengaman perubahan iklim global. Jika lahan gambut terbakar, atau
terdegradasi, akan teremisi berbagai jenis gas rumah kaca (terutama CO , N O,
dan CH ) ke atmosfer yang siap untuk
merubah iklim global.[14]
3.
Mengubah
perilaku konsumtif seperti menghindari pemakaian AC berlebihan, mengurangi menggunakan
kendaraan bermotor pribadi15,16
4.
Mengurangi penggunaan
alat kebutuhan berbahan baku plastik15,16
5.
Mengurangi
perilaku membuka hutan untuk berladang atau pemukiman15,16
7.
Daur Ulang barang-barang yang tidak berguna16
8.
Menggunakan pupuk kompos,
Menggunakan kendaraan hemat bahan bakar.16
9.
Saving energy17
10.
Menggunakan
angkutan umum bila tersedia17
11.
menggunakan
teknologi paling canggih dalam mengelola sampah[17]
Penyebab perubahan iklim dan
kerusakan lingkungan masih banyak yang beranggapan dikarenakan efek gas rumah
kaca. Penyebab antropogenik perubahan iklim dan mitigasi yang masih dianggap
sebagai kontribusi utama. Sehingga permasalahan ini tidak membawa perubahan
signifikan dari perilaku individu, karena kontribusi individu dianggap baik..
Untuk menghadapi persepsi tersebut dalam penelitian Oberheitmann (2013) menyajikan perhitungan
alternatif bagaimana kontribusi individu untuk perubahan iklim. Perhitungan ini
mengambil pendekatan inkremental untuk titik kritis atau 2°C batas pemanasan
global ke dalam perhitungannya. Adapun salah satu perhitungan yang dapat
melihat berapa besar kontribusi individual dalam mengurangi climate change
sebagai berikut :[18]


GHGt adalah emisi bersih dalam arti
bahwa emisi termasuk bagian kecil dari emisi gas rumah kaca yang secara alami
diserap oleh sistem iklim dan yang dipancarkan sekitar 100 tahun dan lebih yang
lalu.
Dengan
mempertimbangkan tambahan kontribusi dari individu, diharapkan dalam target pemanasan
global 2°C atau titik kritis dalam mengubah sistem iklim, dapat semakin
mendekati. Dengan demikian disimpulkan bahwa perhitungan ex-post dari faktor B
(individual contribution) dapat meningkatkan kesadaran tanggung jawab
individu untuk perubahan iklim.
[1]
Laux, M. 2014. Crisis Management & Planning.
Extension and Outreach. Lowa State University
[2]Denny,
E (2009) Hard Talk Forum: Is
Cap-And-Trade The Most Efficient System To Reduce Carbon Emissions?. Americas
Quarterly
3.3
(Summer
2009): 18-21.
[3]
Maxwell, R (2012) . A Health Impact Assessment of California's Proposed
Cap-and-Trade Regulations. American Journal of
Public Health
[4] Pauchant, T, C. Recent
Research in Crisis Management: a Study of 24 authors' Publications from 1986 to
1991. Sage Journal. Organization Environment. Vol. 7 no. 1. 43-66
[5] Vescoukis, V, et.al. 2012. A
Service Oriented Architecture For Decision Support Systems In Environmental
Crisis Management. ScienceDirect Future Generation Computer
Systems Journal. Volume 28, Issue 3. 593–604
[7] Ritchie, B,W, 2013.Chaos,
Crises And Disasters: A Strategic Approach To Crisis Management In The Tourism Industry.
ScienceDirect Tourism Management Journal. Volume 25, Issue 6, Pages 669–683
[8]
Hansen, J. (2000) Global warming in the twenty-first century: An alternative
scenario.Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of
America.Vol. 97 no. 18. 9875–9880
[9]
Six, J. 2004, et.al. The potential to
mitigate global warming with no-tillage management is only realized when
practised in the long term. Global Change Biology Journal.Volume 10, Issue 2. 155–160
[10] Chung, I J H, et.al. 2011.
China’s Management of Environmental Crises: Risks, Recreancy, and Response.
London. Routledge.
[11]
Obeheitmann, A. 2013. Some Remarks on the
Individual Contribution to Climate Change. American Journal Clomate Change. Vol. 2 No. 3, 2013, pp. 198-202
[12]
Prianto, E. (2007). Rumah Tropis Hemat Energi Bentuk Kepedulian Glob Warming.
Riptek. Vol I. No.I 1-10
[13]
Heede, R. (2002) Household Solutions. Rocky Mountain Institute
[14]
Wibowo, A. (2009) Role of Peatland in Global Climate Change. Tekno Hutan
Tanaman. Vol.2 No.1. 19 - 28
[15]
Riyanto (2007). Strategi Mengatasi Pemanasan Global (Global Warming).
Jurnal Unimus. Vol.3, No.2
[16]
Rowsend, T. (2008). Individual versus social solutions to global warming.
International Journal of Social Renewal.
[17]
Brenda, M (2007). Global Warming: A Public Health Concern.
Online Journal of Issues in Nursing. ol. 12 No. 2 Manuscript 5
[18]
Oberheitmann, A (2013). Some Remarks
on the Individual Contribution to Climate Change. American Journal of
Climate Change, 2013, 2, 198-202
Comments
Post a Comment
Silahkan isi komentarnya ^^!