"Za, kenapa sih Prof x benci dengan dirimu!" pertanyaan temanku meluncur tiba-tiba saat teman dipascasarjana bermain ke kantorku .
Seperti petir badai membuatku ternganga tidak percaya dengan apa yang diucapkan temanku
"hah? yang bener yuk? wat de hel? salah gue apa yuk?" aku bertanya balik dengan rasa ketir
"kayaknya beliau tidak suka kamu maju kecepetan dan duluan sidang . beliau juga bilang kamu ga pinter tuh kenapa bisa."
"astaghfirullah... kok gitu. bukannya senang mahasiswanya maju, kok benci sih. terus ayuk bilang apa?" aku masih terngaga tidak percaya. Profesor yang selama ini aku segani tiba-tiba menunjukkan sisi negatifnya yang ga banget.
"ya, kami sih jawab pinter kok prof dan rajin memang si zata. Terus beliau malah bales itu kata kalian, kata saya ENGGA!" kata temanku sambil mengerutkan wajah dan ekspresi bingung
Pernyataan temanku ini membuatku tidak habis pikir.
Pantes aja nilai matakuliah beliau kemarin aku termasuk dalam 2 orang yang diberi nilai B. Padahal temanku yang tidak pernah masuk, dan saat presentasi aruk-arukan sampe dimarahin dikasih nilai A coba!!! Benar-benar zalim.
Aku benar-benar tidak percaya beliau bisa berperilaku tidak terpuji didepan mahasiswanya. Terlebih lagi aku bekerja satu kantor dengan beliau dan terbilang staf paling muda dengan tidak ada kedudukan apa-apa.
so apa yang harus dibenci dari diriku dan apa untungnya juga beliau memulai perkara.
Ah iya... aku ingat. Beliau termasuk orang yang suka disanjung-sanjung. Aku ingat, saat pertama kali menginjakkan kaki sebagai staf baru, aku tidak boro-boro tersujud-sujud dan menghamba Ah iya... aku tidak bisa mengambil hati orang, bukan, bukan tidak bisa mengambil hati, tapi tidak ahli menjilat.
Yasudahlah aku Percaya, bahwa orang zalim urusannya dengan Allah. Allah yang akan langsung membalas perbuatan penzalim. Aku hanya perlu fokus pada kebaikan, dan berikan kinerja terbaik di studi dan pekerjaanku.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Alhamdulillah....
Aku sudah menyelesaikan studiku di Pascasarjana ini dengan nilai sidang yang Memuaskan. Tinggal perbaikan dan pengurusan administrasi wisuda. Aku pontang-panting, karena aku adalah mahasiswa tercepat yang lulus. Aku mengurus semua keperluan administrasi sendirian tidak ada tempat bergantung, sehingga aku harus meninggalkan beberapa pekerjaan di kantor untuk fokus menyelsaikan beberapa administrasi kampus.
Handphone ku berdering.
F : "halo dek, ini ayuk. Dek tolongin ayuk dek. Analisiskan data tesis ayuk, ayuk ngga ngerti confounding"
Z : "Ayuk, zata ga berani ganggu bimbingan prof x. nanti zata salah, kan beliau tidak suka zata"
F : dek tolonglah dek, ayuk gak akan bilang kalau adek yang analisis data ayuk'
Z : Yasudah, nanti zata tolong. Tapi tolong rahasiakan ya yuk. Tapi ayuk coba konsultasikan dulu ke beliau soalnya ayukkan sudah bayar uang analisis ke beliau, sayang ka uangnya
Aku tidak tega melihat temanku yang satu ini. Beliau pernah mengalami keguguran saat ujian semester kemarin mungkin karena stres. Lagian si prof X sih tega banget narikin uang buat analisis data, beliau kan pembimbing harusnya ngajarin ya. Yasudahlah bukan urusanku
Tidak lama kemudian, teman satu ruangan di kantorku dipanggil prof X untuk keruangan beliau. Diruangan beliau sudah ada temanku tadi. Setelah selesai diskusinya, teman satu ruangan ku kembali.
N : zata.. zata... tau ga. Tadi si prof itu bilang. Kamu bisa engga analisis ini sampai confounding. terus mba jawab maaf prog tidak bisa. beliau balik tanya selain kamu dan pak Edi siapa lagi yang bisa analisis di bagian?. terus mba jawab ya zata prof. Ah ga percoyo ndak recomended. Serius prof
Well... Inilah hikmah yg bisa aku petik
Ilmu adalah titipan Allah
Kita semua adalah Hamba
Sungguh bodoh jika bersombong diri
Well... Inilah hikmah yg bisa aku petik
Ilmu adalah titipan Allah
Kita semua adalah Hamba
Sungguh bodoh jika bersombong diri
Comments
Post a Comment
Silahkan isi komentarnya ^^!