Skip to main content

Analisis Kebijakan Fogging Melalui Pendekatan Epidemiologi

Perhatian : Mohon cantumkan sumber/referensi penulis jika mengutip

Zata Ismah 
Peminatan Epidemiologi, Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


KEBIJAKAN FOGGING

Merujuk pada peraturan daerah provinsi daerah khusus ibukota jakarta nomor 6 tahun 2007 tentang pengendalian penyakit demam berdarah dengue . Penanggulangan penyakit DBD merupakan tanggung jawab bersama Pemerintah Daerah dan Masyarakat tertuang pada Bab III pasal 9 yaitu dapat dilakukan melalui upaya sebagai berikut:

a. Penyelidikan Epidemiologi;
Penyelidikan Epidemiologi yang dimaksud merupakan kegiatan pelacakan kasus penderita DBD yang dilaksanakan oleh Puskesmas setelah menemukan kasus, mendapat laporan dari Masyarakat dan Rumah Sakit. Kegiatan tersebut digunakan untuk tindakan penanggulangan selanjutnya dalam bentuk pemberantasan nyamuk dewasa.

b. Penanggulangan Fokus;
Penanggulangan Fokus adalah kegiatan pemberantasan nyamuk DBD dengan cara pengasapan atau fogging. Pengasapan atau fogging tersebut dilaksanakan 2 (dua) putaran dengan interval waktu 1 (satu) minggu dalam radius 100 (seratus) meter. Pengasapan atau fogging tersebut wajib dilaksanakan oleh Puskesmas pada setiap Penyelidikan Epidemiologi positif paling lama 3 X 24 jam (tiga kali dua puluh empat jam). Selain Puskesmas, pengasapan atau fogging dapat dilakukan oleh Masyarakat dengan tenaga terlatih dibawah pengawasan Puskesmas. Masyarakat wajib membantu kelancaran pelaksanaan pengasapan dirumah dan lingkungan masing-masing.
Sasaran target fogging fokus dihitung berdasarkan jumlah fokus yang akan ditanggulangi (1 fokus = 300 rumah). Kegiatan ini dilaksanakan oleh petugas puskesmas atau bekerjasama dengan dinas kesehatan kabupaten/kota

c. Fogging Massal;
Fogging massal merupakan kegiatan pengasapan fokus secara serentak dan menyeluruh pada saat KLB. Kegiatan wajib dilaksanakan oleh Puskesmas dibawah koordinasi Unit Kerja Perangkat Daerah yang bertanggung jawab dibidang kesehatan sebanyak 2 (dua) putaran dengan interval waktu 1 (satu) minggu. Selain Unit Kerja Perangkat Daerah yang bertanggung jawab dibidang kesehatan, pengasapan atau fogging massal dapat dilakukan oleh Masyarakat dengan tenaga terlatih dibawah pengawasan Puskesmas, Masyarakat wajib membantu kelancaran pelaksanaan Fogging missal di rumah dan lingkungan masing-masing.


d. Tatalaksana penanganan kasus
Tatalaksana penanggulangan kasus adalah upaya pelayanan dan perawatan penderita DBD baik di Puskesmas maupun di Rumah Sakit.
Dalam pemberantasan DBD tenaga yang terlibat adalah :
1. Provinsi
  • a. Evaluasi dan bimbingan kegiatan pengendalian vektor (fogging), larvasidasi, PJB dan PSN
  • b. Penentuan kegiatan PSN
2. Dinkes Kabupaten
  • a. Pembuat rencana kegiatan fogging, larvasidasi, PSN
  • b. Pelaksana kegiatan Larvasidasi, PJB, PSN dan pelatihan fogging
  • c. Pengawasan kegiatan Larvasidasi, PJB dan fogging
3. Puskesmas
  • a. Pengusul kegiatan kegiatan Larvasidasi, PJB, dan PSN
  • b. Pelaksana kegiatan foging, Larvasidasi, PJB, PSN serta penyelenggara pelatihan fogging
  • c. Pengawas kegiatan Larvasidasi, PJB, PSN dan pelatihan fogging
4. Juru pemantau jentik berfungsi sebagai tenaga pelaksana PSN, larvasidasi, dan PJB
5. Tenaga lepas harian sebagai tenaga penyemprot fogging (Depkes, 2007)

e. Pembiayaan
Dalam buku juknis Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) kementrian kesehatan mengatakan .Dari sekian banyak upaya kesehatan yang diselenggarakan Puskesmas, dana BOK utamanya digunakan untuk mendukung upaya kesehatan yang bersifat promotif dan preventif yang meliputi enam upaya kesehatan salah satunya Pengendalian dan pemberantasan vektor (fogging, spraying, abatisasi, pemeriksaan jentik, pembagian kelambu) .


ANALISIS KEBIJAKAN

Fogging dengan dosis yang tepat (malathion 5%) sebanyak 10 liter per hektare luas wilayah sasaran dapat membunuh nyamuk Aedes sp secara efektif. Keefektifitas ini juga didukung oleh metode pelaksanaannya yang tepat. Kegiatan fogging yang selama ini dilaksanakan adalah fogging masal dan foging fokus. Kegiatan fogging biasanya dilakukan secara menyeluruh baik pada daerah endemis maupun daerah potensial disekitarnya. Sedangkan kegiatan fogging fokus hanya dilaksanakan pada area sekitar titik yang terinfeksi DBD, biasanya dilakukan pada radius 100 m2. Saat ini kegiatan fogging masal hampir tidak pernah dilaksanakan dengan alasan keterbatasan sumber daya, dan beralih pada kegiatan fogging fokus sebagai senjata utama dalam penanggulangi penularan DBD .

Telah dijelaskan sebelumnya, untuk dilaksanakannya fogging harus memenuhi kriteria yaitu antara lain; sebelum dilakukan fogging masyarakat sekitar harus dilakukan penyuluhan dan Penyelidikan Epidemologi (PE). Penyelidikan epidemilogi adalah kegiatan pencarian penderita DBD atau tersangka DBD lainya dan pemeriksaan jentik nyamuk penular DBD di tempat tinggal penderita dan rumah/ bangunan sekitarnya. Termasuk tempat-tempat umum di dalam radius sekurang-kurangnya 100 meter.
Tindak lanjut hasil PE tersebut bila ditemukan penderita DBD lainya ( 1 atau lebih) atau ditemukan 3 atau lebih tersangka DBD dan ditemukan jentik (>5%) dari rumah/ bangunan yang diperiksa, maka dilakukan penggerakan masyarakat dalam PSN DBD, Larvasidasi, Penyuluhan dan pengasapan (Fogging). Apabila tidak ditemukan jentik maka yang dilakukan hanya PSN DBD, Larvasidasi dan penyuluhan. Untuk melakukan tindakan PE biasanya penderita telah masuk RS, untuk memperoleh informasi adanya sumber penularan, penularan itu sendiri pada dasarnya telah berlangsung 4 hingga 5 hari sejak seseorang mengidap virus dalam peredaran darahnya. Namun, Sebagian besar penderita justru tanpa gejala yang luput dari pelacakan epidemiologi .

Hal ini telah menerapkan prinsip epidemiologi dalam pelaksanaan foging karena sudah berdasarkan siklus hidup nyamuk, perilaku nyamuk, tempat, dan waktu. Berdasarkan riset epidemiologinya Nyamuk Aedes Aegypti menggigit pada puncak dipagi hari yaitu jam 07.00-09.00 serta sore hari pukul 16.00-17.00, Oleh karena pertimbangan tersebut fogging dilaksanakan pada jam 07.00-09.00 pada saat angin belum terlalu berhembus.

Nyamuk senang hinggap yang pada benda-benda yang tergantung dan biasanya ditempat yang agak gelap dan lembab. Nyamuk senang daerah kumuh dan tropis. Kemudian nyamuk menggigit hingga lambungnya penuh dan beristirahat dirumah dan lingkungan rumah, oleh karena itu fogging diasapkan didalam dan luar rumah, khususnya yang redup, lembab, dan jarang terusik penghuni, serta rerimbunan pohon yang tingginya di bawah 1 meter. Racun ini seharusnya digunakan pada saat nyamuk sedang beraktivitas; bukan saat bersembunyi dan beristirahat.

Jarak terbang nyamuk sejauh 2 meter dengan masa hidup nyamuk dewasa adalah 14 hari oleh sebab itu fogging dilakukan 1 x dalam seminggu selama 2 minggu sejauh 2 meter. pengasapan dilakukan dua kali dalam satu paket, yang berselang antara 7 dan 10 hari. Hal ini dimaksudkan agar benar-benar efektif membunuh nyamuk Aedes yang infkesius (membawa virus).

Fogging juga menggunakan kadar racun yang sesuai dengan daya bunuh dan tidak menimbulkan efek resistensi karena nyamuk mati seketika bila kontak dengan partikel-partikel insektisida. Akan tetapi, apabila pelaksanaan fogging tidak sesuai dengan prinsip epidemiologi seperti penggunaan insektisida dalam jangka tertentu dan dosis yang tidak tepat akan menimbulkan resistensi vektor. Pada kasus fogging swadaya masyarakat yang dilakukan secara asal-asalan seperti dilakukan pada siang hari dengan cuaca yang sudah panas dan asap terbawa oleh angin Fogging menjadi tidak berguna. Pengasapan sebenarnya adalah tindakan darurat terakhir untuk memutus rantai penularan DBD dengan membunuh nyamuk Aedes dewasa yang infeksius, dengan menggunakan asap racun.

Efektivitas fogging
Fogging yang efektif dan sesuai dengan PE akan mampu membunuh nyamuk dewasa dengan radius 2 meter. Pengasapan sangat efektif dalam memutuskan rantai penularan karena semua nyamuk termasuk yang aktif mati seketika bila kontak dengan partikel-partikel insektisida

Kelemahan fogging
  1. Racun pada malation mengakibatkan manusia dapat terganggu kesehatannya karena pestisida dapat masuk dalam tubuh manusia melalui kulit (Contact poison), melalui pernafasan (Respiratory poison), melalui mulut (mouth poison) apabila tangan, makanan dan peralatan makan/minum tercemar pestisida.
  2. Kandungan solar :
    - CO2 mengikat Hb dibanding O2
    - NO2 bersifat racun, mengakibatkan radang paru-paru
    - SO2 bersifat iritan, mudah diserap selaput lendir saluran nafas mengakibatkan kanker saluran nafas
  3. Memerlukan dana yang sangat mahal dalam pelaksanaannya
  4. Resistensi nyamuk terhadap malathion
  5. Apabila fogging dijadikan satu-satunya cara pemberantasan DBD tidak akan efektif karena 6-8 hari kemudian larva nyamuk akan menjadi nyamuk dewasa. Seharusnya diimbangi dengan Pengelolaan lingkungan seperti PSN melalui 3M + dan larvasidasi
  6. Berdasarkan penelitian Indra Chahaya, 2003 bahwa penanggulangan vektor DBD yang efektif adalah dengan Pembersihan Sarang Nyamuk (PSN) karena untuk memberantas jentik atau mencegah agar nyamuk tidak dapat berkembang biak, maka pemberantasannya perlu peran aktif masyarakat khususnya memberantas jentik Ae.aegypti di rumah dan lingkungannya masing-masing. Cara ini adalah suatu cara yang paling efektif dilaksanakan karena :
    - tidak memerlukan biaya yang besar
    - bisa dilombakan untuk menjadi daerah yang terbersih
    - menjadikan lingkungan bersih
    - budaya bangsa Indonesia yang senang hidup bergotong royong
    - dengan lingkungan yang baik tidak mustahil, penyakit lain yang diakibatkan oleh lingkungan yang kotor akan berkurang.
sumber : 
Kemenkes RI. Juknis BOK. Jakarta. 2010. h.9
Sukamto.2011. Fogging Apa Dampaknya. http://sukamto.staff.uii.ac.id/2011/02/10/fogging-apa-dampaknya/
Indra Cahya. 2003 Pemberantasan Vektor DBD. http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm-indra%20c5.pdf

Comments

Popular posts from this blog

Nine Month s

Medan sebuah kota yang tak pernah terbesit sebelumnya Sebuah kota maju kota metropolitan seperti Jakarta namun seperti ditinggalkan Bertemu dengan delapan mahasiswa  yang menjadi sahabat bagiku Membangun FKM bersama-sama Lalu datanglah Bahagia dan rintangan datang bergantian Hati dan pikiran semuanya termuara pada mereka Sampai segala puncak cobaan yang tak terbendung Perlakukan manusia zalim yg tak bisa tercena olah akal sehat Fitnah lalu lalang menghantam tak kunjung usai  Terkadang berbuat baik, tak mesti disambut gayung Malah lebih banyak ditiupkan ombak yg menerjang sampan kecil hingga terbalik Menoleh kembali perjuangan Rasulullah, Kehinaan ini tak seberapa dibandingkan dgn kisah sirah nabawiyah. Mencoba membingkai skenario Tuhan Hendak derajat mana yang akan dinaikkan Apakah harus melawan atau diamkan Bulir airmata menitik deras namun hanya sajadah dan AlQuran saksi kesendirian Hanya bertumpu pada keyakinan, akhir kisah ini, Allah pasti akan memb...

Kualitas Pendidikan Di Indonesia

Ada 3 artikel bagus yg ditulis oleh Elizabeth Pisani tentang kualitas pendidikan di Indonesia. Pisani adalah jurnalis Reuters yg banyak menulis tentang Indonesia. Salah satu bukunya, 'Indonesia Etc', adalah buku bagus yg mendapat banyak pengakuan internasional Dalam tulisannya, Pisani menyoroti prestasi anak2 Indonesia dalam tes PISA. PISA adalah tes yg diadakan OECD untuk menguji kemampuan anak2 usia 15 tahun di puluhan negara dalam bidang sains (science), matematika (math) dan membaca (reading). Tes ini diadakan 3 tahun sekali. Di 2 tes terakhir pada tahun 2012 dan 2015, Indonesia mendapat peringkat 60-an dari 70 negara di ketiga bidang yg diujikan. Jauh di bawah negara2 tetangga di ASEAN seperti Thailand, Malaysia, Vietnam, apalagi Singapura. Contohnya: hasil tes 2015 menunjukkan, 55% anak Indonesia punya kemampuan sangat buruk di tes membaca. Semua soal tes PISA sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia loh padahal.. 😅 Reading comprehension mereka ternyata sangat rendah....

Research Article vs. Review Article

RESEARCH ARTICLE A research article describes a study that was performed by the article’s author(s). It explains the methodology of the study, such as how data was collected and analyzed, and clarifies what the results mean. Each step of the study is reported in detail so that other researchers can repeat the experiment. The research article will be based on the analysis and interpretation of this data.  To determine if a paper is a research article, examine its wording. Research articles describe actions taken by the researcher(s) during the experimental process. Look for statements like “we tested,” “I measured,” or “we investigated.” Research articles also describe the outcomes of studies. Check for phrases like “the study found” or “the results indicate.” Next, look closely at the formatting of the article. Research papers are divided into sections that occur in a particular order: abstract, introduction, methods, results, discussion, and references. REVIEW ARTIC...