Skip to main content

Biopsikososiokultural Pada Gizi Buruk di Desa Meler Manggarai NTT

Perhatian : Mohon cantumkan sumber/referensi penulis jika mengutip

Oleh : Zata Ismah1
1Perminatan Epidemiologi,  Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


A. Biologi
Sesuai dengan skema UNICEF tentang penyebab gizi buruk, Depkes RI menyatakan bahwa penyebab langsung gizi buruk pertama: anak kurang mendapat asupan gizi seimbang dalam waktu cukup lama, dan kedua: anak menderita penyakit infeksi. Gizi buruk secara biokimia dikarenakan malnutrisi yang diakibatkan dari masukan makananan yang tidak sesuai atau karena penyerapan makanan yang tidak cukup. Gangguan metabolik tertentu juga menyebabkan malnutrisi. Malnutrisi dapat menimbulkan dua kondisi yaitu marasmus dan kwashiorkor dikarena kekurangan nutrisi tertentu yang berbeda.
1. Marasmus
Marasmus adalah bentuk malnutrisi kalori protein yang terutama akibat kekurangan kalori yang berat dan kronis terutama terjadi selama tahun pertama kehidupan dan mengurusnya lemak bawah kulit dan otot marasmus. Kurang kalori protein juga karena gangguan penyerapan kalori dan protein dikarenakan penyakit seperti infeksi, kelainan bawaan saluran pencernaan, kelainan jantung bawaan, malabsorpsi, gangguan metabolik, penyakit ginjal menahun dan gangguan saraf pusat. Marasmus terjadi apabila kurangnya kalori
Proses terjadinya marasmus :
  1. Terjadinya marasmus awalnya akibat kekurangan gizi kalori dan protein pada tubuh, maka simpanan zat gizi pada tubuh digunakan untuk memenuhi kebutuhan. Apabila keadaan ini berlangsung lama maka simpanan zat gizi akan habis dan akhirnya terjadi kemerosotan jaringan.
  2. Pertumbuhan dan perkembangan dibutuhkan hormon Growth Hormon yang disintesis/dibuat oleh hati. Apabila tubuh kurang nutrisi dikarenakan simpanan gizi habis hormon tersebut gagal disintesis. Pada mulanya ada kegagalan menaikkan berat badan. disertai dengan kehilangan berat badan sampai berakibat kurus dengan kehilangan turgor pada kulit sehingga menjadi berkerut dan longgar karena lemak subkutan hilang dari bantalan pipi, muka bayi menjadi menyusut dan berkeriput. Abdomen dapat kembung dan datar.
  3. Terjadi atropi otot dengan akibat hipotoni. nadi melambat, lesu dan nafsu makan hilang. Bayi biasanya konstipasi, diare tipe kelaparan, dengan buang air besar sering, tinja berisi mukus dan sedikit. Pada keadaan seperti ini daya tahan tubuh anak sangat rendah sehingga rentan penyakit infeksi dan berakibatkan gizi buruk bertambah fatal.
  4. Penyakit infeksi dapat menurunkan kecepatan pertumbuhan selama anak sakit. Tubuh akan lebih terfokus pada perbaikan pertumbuhan anak yang rusak karena infeksi. Gangguan pertumbuhan ini berkaitan dengan dampak pada gangguan pencernaan , pencernaan, dan kardiovaskular. Penyakit infeksi baik oleh bakteri maupun virus pada saluran cerna mengabkibatkan anak kehilangan cairan yang hebat atau gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit lewat muntah dan diare dan anoreksia.

2. Kwahiorkor
Adalah bentuk malnutrisi protein yaitu defisiensi protein yang disertai defisiensi nutrien lainnya seperti vitamin dan mineral yang biasa dijumpai pada bayi masa disapih dan anak prasekolah (balita). Kekurangan vitamin dan mineral biasanya terjadi pada asupan. Yodium berfungsi untuk memproduksi hormon tiroksin mengontrol pertumbuhan, serta membantu proses metabolisme tubuh. Keadaan ini juga dikarenakan gangguan penyerapan protein seperti diare kronik, kehilangan protein abnormal pada proteinuria (nefrosis), infeksi, penyakit hati kronik. Patofisiologis infeksi adalah sama dengan seperti marasmus, seperti anoreksia dan diare kronik. Infeksi meneyebabkan kehilangan protein berlebihan melalui urin atau tinja. Sedangkan penyakit hati kronik menyebabkan kegagalan sintesis protein.
Proses terjadinya :
  1. kekurangan protein akan menyebabkan terjadi kekurangan berbagai asam amino dalam serum. Kekurangan tersebut akan disalurkan ke jaringan otot.
  2. Makin kurangnya asam amino dalam serum ini akan menyebabkan kurangnya produksi albumin oleh hepar yang kemudian berakibat timbulnya odema. Perlemakan hati terjadi karena gangguan pembentukan beta liprotein.
  3. Kelainan yang mencolok adalah gangguan metabolik dan perubahan sel yang disebabkan edema dan perlemakan hati. Gangguan metabolik ini ada gangguan aktivitas enzim pankreas dan santhin oksidase yang menyebabkan gagalnya metabolisme sintesis protein.
Dengan demikian disimpulkan marasmus dikarenakan asupan kalori (energi) dan protein kurang, sedangkan kwahsiorkor karena asupan protein. Kebutuhan dikatakan kurang apabila asupan tidak memenuhi standar kebutuhan gizi 2004 bagi orang Indonesia. Standar tersebut adalah sebagai berikut:


Cara mengetahui anak balita yang sehat atau kurang gizi secara sederhana dapat diketahui dengan membandingkan antara berat badan menurut umur atau berat badan menurut tinggi, apabila sesuai dengan standar anak disebut Gizi Baik. Kalau sedikit di bawah standar disebut Gizi Kurang, sedangkan jika jauh di bawah standar disebut Gizi Buruk.




B. Psikologi

Faktor psikologis pada denah UNICEF berada pada penyebab tidak langsung. Pada faktor biologis, diketahui untuk mendapatkan intake protein dan energi yang cukup, seorang anak harus mendapatkan asupan makanan yang baik. Asupan protein dan energi yang kurang menyebabkan gizi buruk. Asupan makanan yang diperoleh anak dapat terganggu bila psikologis anak maupun ibu terjadi seperti berikut :

  1. Anak-anak yang mendapatkan cinta dan kasih sayang yang sedikit cenderung stress. Keluarga dapat menjadi salah satu sumber stres. Pada kondisi ini anak strees dinilai sebagai rangsangan dari luar individu yang menyebabkan anak terstimulus atau terangsang untuk stress. Stres menghasilkan regangan dalam sistem biologis. Strees sebagai faktor kejiwaan ini menghambat gangguan pertumbuhan berupa penghambatan sekresi horman GH dan pelepasan IGH-1 yang diproduksi oleh hati. menganggu metabolisme asupan gizi.
  2. Stress akan menekan respon kekebalan tubuh. Strees melepaskan hormon Adrenalin dan kortisol yang meningkatkan penekan pada sel T, menurunkan sel-T helper, dan penurunan fungsi fagosit dan limfosit. Jika telah berbicara kekebalan tubuh maka berhubungan dengan infeksi. Semua bayi sangat terikat pada ibunya di usia satu tahun pertama. Keterikatan ini karena anak merasa aman dan nyaman bersama ibunya. Rasa nyaman yang didapatkan oleh anak meningkatkan nafsu makan pada anak dibandingkan pada anak yang diasuh oleh seorang pengasuh. Ketidak pedulian ibu dan hubungan keluarga yang jauh dari anak mengakibatkan anak-anak mengalami penurunan nafsu makan atau anoreksia. Anoreksia ini akan langsung berhubungan dengan berkurangnya daya tahan tubuh sehingga memudahkan terjadinya infeksi dan mengakibatkan diare kronik. Sedangkan pada perkembangan anak diusia tahun selanjutnya, pada anak yang sering mendapatkan rasa nyaman oleh ibu maupun keluarganya cenderung mengalami rasa aman dan lebih mudah mengatasi rasa streesnya. Sehingga rasa kepedulian dari ibu dan keluarga berkaitan dengan kondisi stress anak.
  3. Sesuai dengan teori Health Belief Model, bahwa seseorang dalam mempertimbangkan untuk pergi kepelayanan kesehatan melalui beberapa tahap yakni (1) memiliki perasaan terancam (perceived susceptibility) (2) kesakitan yang didapat (perceived severity) (3) hambatan dan manfaat jika pergi ke pelayanan kesehatan. pada kasus gizi buruk, psikologis ibu yang memiliki rasa terancam (perceived susceptibility) anak nya untuk memiliki status gizi kurang, kemudian perasaan kesakitan (perceived severity) yang akan dialami pada gizi kurang anaknya, kemudian sang ibu akan mempertimbangkan hambatan dan manfaatnya apabila ibu memberikan gizi yang cukup pada anak misalnya pemberian ASI eksusif dan memeriksakan anak mereka rutin keposyandu.


C. Sosial dan budaya
Faktor sosial dan budaya menjadi faktor tidak langsung dan akar masalah pada kasus gizi buruk. Faktor sosial ekonomi yang dapat mempengaruhi masalah gizi pada seseorang adalah pendidikan, pekerjaan, teknologi, dan pendapatan. Pendidikan akan mempengaruhi jenis pekerjaan, yang juga dapat mempengaruhi tingkat pendapatan. Pendapatan yang rendah dapat mengakibatkan kemiskinan. Kemiskinan merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya masalah gizi kurang di Indonesia. Kondisi sosial seseuai dilatar belakangi oleh kebudayaan.

  1. Pada anak kelompok sosio-ekonomi baik cenderung menggunakan tekhnik coping dalam mengatasi strees (Billings & Moos, 1981). Kondisi coping yang baik ini didapatkan pada anak dengan lingkungan keluarga yang stabil. Hal ini jarang terjadi pada kelompok miskin yang rentan pada sifat pesimistis terhadap keadaan. Rasa kurangnya perhatian dan keterikatan pada kelurga terjadi pada kelompok sosial yang ibunya bekerja.
  2. Desa Meler Kabupaten Manggarai NTT merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Nusa Tenggara Timur yang memiliki tingkat kemiskinan yang tinggi. Kemiskinan terjadi tergolong dalam kemiskinan alamiah, yaitu kemiskinan yang disebabkan oleh kualitas sumberdaya alam dan sumberdaya manusia. selain itu, faktor budaya juga mempengaruhi terjadinya kemiskinan di Manggarai karena adanya sistem pembagian tanah dari orangtua kepada anak menyebabkan luas lahan menjadi berkurang. Hal ini menyebakan munculnya buruh tani. Kemiskinan juga membuat mereka sudah biasa memelihara babi sebagai hewan ternak untuk dikonsumsi keluarga dan sebagai tambahan pendapatan keluarga. Padahal pengolahan babi yang tidak matang dapat menyebabkan beberapa penyakit seperti taneansis karena cacing pita. Cacing pita akan menjadi parasit diusus anak dan mengambil semua sari makanan anak.
  3. Kemiskinan ini juga tercermin pada kondisi perumahan. Perumahan desa meler mayoritas berlantai tanah, berdinding bilik dan membuang tinja ke sungai sehingga tidak memiliki septitank. Kondisi ini menyebabkan anak-anak sering terpapar penyakit infeksi oleh bakteri, virus dan parasit yang siap memperburuk kondisi gizi anak. Desa Meler kabupaten manggarai rata-rata memiliki jumlah anggota >7 (keluarga besar). Besar keluarga akan mempengaruhi konsumsi zat gizi di dalam satu keluarga, yang akan mempengaruhi status gizi anak dalam keluarga. Selain itu besar keluarga mempengaruhi luas perpenghunian di dalam suatu bangunan rumah yang akan mempengaruhi anak. Apabila kepadatan dihubungkan dengan penyakit infeksi akan muncul seperti penularan TB. Keadaan jumlah keluarga dikarenakan anggapan bahwa banyak anak banyak rezeki sehingga diharapkan anak-anak mereka mampu mengubah nasib perekonomian. Pendidikan ayah berdampak pada kondisi perekonomian keluarga. Sedangkan pendidikan ibu berdampak pada pengetahuan gizi ibu dan berperan dalam menyusun pola makan untuk rumah tangga dan. Desa Meker kabupaten manggarai pendidikan ayah dan ibu rata-rata adalah tamatan SD. Hal ini menjadi wajar apabila kedua orangtua tidak memperhatikan pola konsumsi anak sesuai dengan pedoman gizi seimbang. Ibu yang berpengetahuan gizi baik akan mengupayakan kemampuan menerapkan pengetahuannya di dalam pemilihan dan pengolahan pangan sehingga konsumsi makanan mencukupi kebutuhan lebih terjamin. Pengetahuan kurang ini menimbulkan anggapan-anggapan seperti
    • a. Rendahnya pemberian ASI, karena ketidak tahuan manfaat ASI serta kesibukan sang ibu mencari penghasilan untuk makan per hari.
    • b. Budaya taboo, yaitu prioritas memberikan makanan yang lebih banyak dan bergizi pada kepala keluarga dari pada anak. Masyarakat Desa meler Manggarai menganut sistem patrilineal yaitu pemberian prioritas makan mengutamakan kaum laki-laki. Siapa yang harus makan duluan, Si tua dapat daging potong lebih besar, Anak bungsu dapat tulang sumsum yg lain tidak.
    • c. Budaya pantangan terhadap makanan tertentu banyak terdapat pada balita. Sehingga makanan larangan mengkonsumsi jenis makanan tertentu yang dikarena ada ancaman bahaya atau akan ada hukuman terhadap yang melanggarnya padahal makanan tersebut bergizi. Pola asuh yang salah seperti pemberian makanan tambahan pada anak di bawah 6 bulan seperti madu, pisang dan air beras tajih
    • d. Pengetahuan rendah berdampak pada psikologis ibu yang merasa dan beranganggapan anak mereka tidak dalam terancam dan bahaya pada kondisi gizinya. Sehingga ibu tidak memberikan perhatian konsumsi lebih pada anak mereka dan tidak membawakan anak mereka ke pelayanan kesehatan misalnya menimbang anak mereka secara berkala di posyandu.
  4. Pendidikan yang rendah mengakibatkan jenis pekerjaan juga rendah. Pekerjaan ayah di desa Meler yang sebagian besar adalah petani. Penghasilan petani terbilang rendah karena musim panen hanya 2x dalam setahun. Rendahnya pendapatan merupakan rintangan yang menyebabkan mereka tidak mampu membeli pangan yang bermutu gizi baik dan beragam. Anak- anak diberikan makanan khusus seperti susu dan daging tidak setiap hari hanya pada saat-saat tertentu karena daya beli rendah. makan protein alias daging hanya di pesta. Seperti kehadiran daging babi yang wajib ada pada setiap pesta dan acara besar serta upacara adat. Sedangkan pola berfikir pemberian makan telur untuk anak-anak hanya ketika sakit.

Referensi
Soedtjihningsih. 1995. Tumbuh kembang anak. Jakarta.EGC
Wahab, Samik. 2002. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta. EGC
Underwood, J.CE. 1999. Patologi Umum dan Sistemik. Jakarta. EGC
Atkinson, Rita, Et.al. t.thn. Pengantar Psikologi. Erlangga
Marut, Ursula Dianita. 2008. Studi Tentang Aspek Sosial Ekonomi Dan Budaya Serta Kaitannya Dengan Masalah Gizi Kurang Di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Skripsi. Fakultas pertanian IPB
Yuni, Dwi. 2012. http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/103/jtptunimus-gdl-dwianayuni-5135-2-bab1.pdf
Myrisa. 2010. Pengaruh Gizi Buruk Pada Anak. dipetik dari http://myrisa.wordpress.com/2010/10/06/pengaruh-gizi-buruk-pada-anak/. Diakses pada 12/12/2012
Annonim. 2012. Masyarakat Harus Peduli Dengan Kondisi Gizi Buruk Anak. Dipetik dari http://www.kulonprogokab.go.id/v21/masyarakat-harus-peduli-dengan-kondisi-gizi-buruk-anak_2453. diakses pada 12/12/2012

Comments

Popular posts from this blog

Nine Month s

Medan sebuah kota yang tak pernah terbesit sebelumnya Sebuah kota maju kota metropolitan seperti Jakarta namun seperti ditinggalkan Bertemu dengan delapan mahasiswa  yang menjadi sahabat bagiku Membangun FKM bersama-sama Lalu datanglah Bahagia dan rintangan datang bergantian Hati dan pikiran semuanya termuara pada mereka Sampai segala puncak cobaan yang tak terbendung Perlakukan manusia zalim yg tak bisa tercena olah akal sehat Fitnah lalu lalang menghantam tak kunjung usai  Terkadang berbuat baik, tak mesti disambut gayung Malah lebih banyak ditiupkan ombak yg menerjang sampan kecil hingga terbalik Menoleh kembali perjuangan Rasulullah, Kehinaan ini tak seberapa dibandingkan dgn kisah sirah nabawiyah. Mencoba membingkai skenario Tuhan Hendak derajat mana yang akan dinaikkan Apakah harus melawan atau diamkan Bulir airmata menitik deras namun hanya sajadah dan AlQuran saksi kesendirian Hanya bertumpu pada keyakinan, akhir kisah ini, Allah pasti akan memb...

Kualitas Pendidikan Di Indonesia

Ada 3 artikel bagus yg ditulis oleh Elizabeth Pisani tentang kualitas pendidikan di Indonesia. Pisani adalah jurnalis Reuters yg banyak menulis tentang Indonesia. Salah satu bukunya, 'Indonesia Etc', adalah buku bagus yg mendapat banyak pengakuan internasional Dalam tulisannya, Pisani menyoroti prestasi anak2 Indonesia dalam tes PISA. PISA adalah tes yg diadakan OECD untuk menguji kemampuan anak2 usia 15 tahun di puluhan negara dalam bidang sains (science), matematika (math) dan membaca (reading). Tes ini diadakan 3 tahun sekali. Di 2 tes terakhir pada tahun 2012 dan 2015, Indonesia mendapat peringkat 60-an dari 70 negara di ketiga bidang yg diujikan. Jauh di bawah negara2 tetangga di ASEAN seperti Thailand, Malaysia, Vietnam, apalagi Singapura. Contohnya: hasil tes 2015 menunjukkan, 55% anak Indonesia punya kemampuan sangat buruk di tes membaca. Semua soal tes PISA sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia loh padahal.. 😅 Reading comprehension mereka ternyata sangat rendah....

Research Article vs. Review Article

RESEARCH ARTICLE A research article describes a study that was performed by the article’s author(s). It explains the methodology of the study, such as how data was collected and analyzed, and clarifies what the results mean. Each step of the study is reported in detail so that other researchers can repeat the experiment. The research article will be based on the analysis and interpretation of this data.  To determine if a paper is a research article, examine its wording. Research articles describe actions taken by the researcher(s) during the experimental process. Look for statements like “we tested,” “I measured,” or “we investigated.” Research articles also describe the outcomes of studies. Check for phrases like “the study found” or “the results indicate.” Next, look closely at the formatting of the article. Research papers are divided into sections that occur in a particular order: abstract, introduction, methods, results, discussion, and references. REVIEW ARTIC...