Skip to main content

Posts

Dietary Supplement, Drug or Food?

Perhatian : Mohon cantumkan sumber/referensi penulis jika mengutip Zata Ismah* *Magister Public Health Student, Sriwijaya University South Sumatera Province.  Pendahuluan Berbagai hasil penelitian menyebutkan bahwa terdapat peningkatan konsumsi suplemen pada kalangan orang dewasa. Hasil survei dari National Health and Nutrition Examination Surveys (NHANES) didapatkan data pada tahun 1999-2000, 2003-2006, dan 2007-2010 telah melaporkan bahwa sekitar setengah dari orang dewasa negara Amerika menggunakan suplemen makanan (sebesar 49% sampai 54%). Kemudian survei selama periode lima tahun 2007-2011 oleh Ipsos Public Affairs for the Council for Responsible Nutrition (CRN) menemukan bahwa 48-53% (rata-rata 50%) dari konsumen menganggap diri mereka "rutin" mengkonsumsi suplemen makanan, sedangkan untuk prevalensi keseluruhan penggunaan suplemen adalah sebesar 64-69% ( rata-rata 66%) [1] . Dickinson (2014) dalam penelitiannya pada masyarakat di Amerika didapatkan bahw...

Final Kehidupan: Siapa sih Orang Sukses itu?

Wah.... teman yang dahulu peringkat biasa saja dikelas, kuliah di kampus biasa aja, sekarang sudah kerja diperusahaan ini.. dan itu. Wah... teman kampus yang ipk nya biasa aja, tamatnya juga agak telat, malah duluan kerja. keren..!!! Wah... teman yang biasa aja, eh.. malah nikah duluan. anaknya udah satu, lucu lagi. Wah ... wah.. wah...dan wah... Begitulah hidup yang berbolak-balik Tidak ada yang bisa menjamin kesuksesan orang dimasa depan Tidak ada yang berhak menghukum final atas kehidupan orang lain Apakah fakir tujuh turunan,  tidak akan kaya raya? Keadaan akan berbalik jikalau anak-anaknya sekolah lalu sukses Apakah orang yang zalim dan maksiat akan selalu menjadi "sampah masyarakat"? padahal sudah banyak dai kondang di negeri ini yang juga punya masa kelam sebelum hijrahnya. Padahal... tidak ada final dalam hidup ini, semuanya adalah proses sampai ditutup buku catatan amal. Yaitu kematian. Wajar, sesuatu yang fisik lebih silau untuk terlihat dan dikep...

True Story - Kotak Bekal: Bahwa Tidak ada yang Kebetulan

Pagi ini aku tidak sempat sarapan dirumah karena sudah terlambat berangkat kekampus. Belum lagi kota ini sedang pembangunan proyek LRT. Waktu tempuh rumah-kampus yang tadinya hanya butuh 30 menit sekarang bisa jadi 45-60 menit. Melelahkan~ 5 meter lagi sampai kampus, aku membelokkan motor dan membeli nasi minyak dipinggir jalan. Tiba jam isoma aku bingung, khawatir berhamburan kalau digeletakkan saja dimeja. Tak lama berfikir, seorang teman menghampiriku sambil membuka bekalnya " tadi barusan ibu nganterin bekal sama wadahnya. Padahal aku sudah bawa kotak bekal kosong. Yah jadinya aku sia-sia bawa wadah bekal kosong " curhatnya " yah elah.... sis... itu mah kotak bekal kosong rejeki gue...!! " aku berbinar " lah emang kenapa ?" tanya temanku "  Kayaknya, tuh kotak yang lebih dititip Allah, buat aku makan siang ini. Tau ga  tadi pagi aku beli nasi bungkus, dan bingung mau makannya sekarang. Ternyata Allah jawab kegelisahanku lewat ibu yang ...

True Stroy : padahal Hamba, tapi Sombong

"Za, kenapa sih Prof x benci dengan dirimu!" pertanyaan temanku meluncur tiba-tiba saat teman dipascasarjana bermain ke kantorku .  Seperti petir badai membuatku ternganga tidak percaya dengan apa yang diucapkan temanku "hah? yang bener yuk? wat de hel? salah gue apa yuk?" aku bertanya balik dengan rasa ketir "kayaknya beliau tidak suka kamu maju  kecepetan dan  duluan sidang . beliau juga bilang kamu ga pinter tuh kenapa bisa." "astaghfirullah... kok gitu. bukannya senang mahasiswanya maju, kok benci sih. terus ayuk bilang apa?" aku masih terngaga tidak percaya. Profesor yang selama ini aku segani tiba-tiba menunjukkan sisi negatifnya yang ga banget. "ya, kami sih jawab pinter kok prof dan rajin memang si zata. Terus beliau malah bales itu kata kalian, kata saya ENGGA!" kata temanku sambil mengerutkan wajah dan ekspresi bingung Pernyataan temanku ini membuatku tidak habis pikir.  Pantes aja nilai matakuliah...

PRINSIP UMUM PELAKSANAAN SURVEILANS EPIDEMIOLOGI

Pengertian menurut WHO : proses pengumpulan, pengolahan, analisis dan interpretasi data secara sistematik dan terus menerus serta penyebaran informasi kepada unit yang membutuhkan untuk dapat mengambil tindakan. Menurut Depkes : Ke giatan analisis secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit atau masalah-masalah kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit atau masalah-masalah kesehatan tersebut, agar dapat melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses pengumpulan data, pengolahan dan penyebaran informasi epidemiologi kepada penyelenggara program kesehatan (Kepmenkes 1116).   Artinya selain pengumpulan data, menkes menekankan surveilans kuatan terbesar pada analisis data Yang dimaksud dengan memantau surveilans penyakit : Agen Penyakit : bakteri, virus, protozoa, binatang, kimia, fisik tertentu Penderita : karakteristik individu ketika menghadapi penyakit, Distribusi Agen dan Pende...

INVESTIGASI PENANGGULANGAN KLB PD3I

Penyebarannya dari orang keorang biasanya melalui droplet , dan infeksi meningococcal (pemakaian alat bersama) Masa inkubasi PD3I bervariasi dari beberapa hari bahkan bulan. Inkubasi yang panjang menyebabkan KLB PD3I berkelanjutan dan menimpa beberapa generasi anak. Sehingga saat investigasi banyak ditemukan telah terjadi penularan Investigasi dimulai dari penemuan kasus yang sesuai dengan definisi kasus.  Penemuan  kasus indeks dengan cara tanggal kejadian (onset) kasus pertama dan memperkirakan masa inkubasi untuk mengetahui sumber penularan. Konfirmasi kasus dibutuhkan spesimen penderita gunanya untuk srologis apakah single ataukah pair dan melihat kadar IgM dan dukungan pemeriksaan Lab dengan kultur PCR Strain Typing membantu penggunaan vaksin untuk profilaksis penanggulangan KLB yang disebabkan meningococcal atau pneumococcal Koordinasi dan kosultasi lab rujukan agar spesimen yang diambil tepat dengan cara yang tepat. Pengiriman spesimen harus mengikuti prosed...

MENGHITUNG VACCINE EFFICACY

VACCINE EFFICACY (VE) adalah presentase pengurangan jumlah penderita yang terjadi pada kelompok mereka yang divaksinasi. Kegunaannya untuk mengetahui efektifitas vaksin dan menilai kebijakan program imunisasi. VE dengan cepat bisa dihitung apabila cakupan imunisasi diketahui dengan grafik yang dikembangkan oleh Orenstein Kurva VE =90% apablia terjadi imunisasi 90% maka 50% kasus yang ditemukan akan mempunyai riwayat sudah diimunisasi Rumus VE = 100 X 1 (Attack Rate mereka yang sudah divaksin/Attack Rate yang belum divaksin) Harus berhati-hati memilih kontrol terpajan Untuk KLB yang mengenai generasi berbeda, maka analisis ditujukan pada kasus yang terjadi dalam periode tertentu yang telah ditetapkan Vaksin yang dosis multiple dikelompokkan menjadi pada orang yang tidak diimunisasi, imunisasi tidak lengkap dan yang di imunisasi lengkap KLB pada bayi juga dibuat kategori sesuai umur antara yang sudah atau yang belum diimunisasi dasar lengkap KLB pada anak yang lebih besar dewa...