Skip to main content

Dietary Supplement, Drug or Food?

Perhatian : Mohon cantumkan sumber/referensi penulis jika mengutip
Zata Ismah*
*Magister Public Health Student, Sriwijaya University South Sumatera Province. 

Pendahuluan
Berbagai hasil penelitian menyebutkan bahwa terdapat peningkatan konsumsi suplemen pada kalangan orang dewasa. Hasil survei dari National Health and Nutrition Examination Surveys (NHANES) didapatkan data pada tahun 1999-2000, 2003-2006, dan 2007-2010 telah melaporkan bahwa sekitar setengah dari orang dewasa negara Amerika menggunakan suplemen makanan (sebesar 49% sampai 54%). Kemudian survei selama periode lima tahun 2007-2011 oleh Ipsos Public Affairs for the Council for Responsible Nutrition (CRN) menemukan bahwa 48-53% (rata-rata 50%) dari konsumen menganggap diri mereka "rutin" mengkonsumsi suplemen makanan, sedangkan untuk prevalensi keseluruhan penggunaan suplemen adalah sebesar 64-69% ( rata-rata 66%) [1].
Dickinson (2014) dalam penelitiannya pada masyarakat di Amerika didapatkan bahwa prevalensi pengonsumsi diatery supplement justru berasal dari golongan yang menerapkan kebiasaan hidup sehat1. Penelitian Suantara (2010) didapatkan 65,48% sampel remaja sering mengkonsumsi food supplement lebih dari 4 kali dalam seminggu[2]. Hasil yang lebih mencengangkan dari Wong (2010) bahwa sebesar 99% sampel penelitian dari pasien kanker payudara menggunakan dietary supplement sebagai pengobatan alternatif dari kanker mereka[3].
Banyak konsumen yang menganggap bahwa suplemen adalah bagian dari pelengkap zat gizi dari makanan, sehingga banyak terjadi pengonsumsian suplemen dari batas wajar. Selain itu juga ada anggapan masyarakat menggunakan suplemen sebagai pengganti obat alternatif dari suatu penyakit kronis. Padahal mengkonsumsi suplemen yang berlebih dan tidak seseuai aturan akan mengakibatkan efek samping. Contoh efek samping dari belebihan mengkonsumsi suplemen misalnya, terlalu banyak vitamin A dapat menyebabkan sakit kepala dan kerusakan hati, mengurangi kekuatan tulang, dan menyebabkan cacat lahir. Kelebihan zat besi menyebabkan mual dan muntah dan dapat merusak hati dan organ lainnya[4]. Oleh karena itu perlu kita ketahui bersama apakah dietary suplement apakah termasuk obat atau makanan?

Metode
Berdasarkan permasalahan diatas, dalam artikel ini penulis akan memakai pendekatan metode studi pustaka atau riview jurnal. Adapun pustaka atau referensi yang diambil sebagai rujukan berjumlah 13 referensi, yang terdiri dari : 8 jurnal, dan 5 website terpecaya yang berkaitan dengan dietary supplement.
Keberagaman sumber akan menjadi triangulasi sumber, serta menemukan pendapat yang mendukung atau pun menolak hasil penelitian satu sama lain. Untuk itu, keberagaman sumber juga berguna dalam menarik kesimpulan yang lebih kompleks dan tidak hanya memandang satu hasil penelitian saja.  

Hasil dan Diskusi
Suplemen makanan menurut U.S National Institutes of Health (2011) terdiri dari satu atau gabungan bahan makanan berupa vitamin, mineral, herbal dan tumbuhan, asam amino, enzim, dan banyak produk lainnya. Suplemen makanan bisa dalam berbagai bentuk: tablet tradisional, kapsul, dan bubuk, serta minuman dan berenergi. Sedangkan suplemen yang populer adalah vitamin D dan E; mineral seperti kalsium dan zat besi; herbal seperti echinacea dan bawang putih; dan produk khusus seperti minyak glukosamin, probiotik, dan ikan4.
BPOM Indonesia mengeluarkan peraturan suplemen kesehatan adalah produk yang dimaksudkan untuk melengkapi kebutuhan zat gizi, memelihara, meningkatkan dan memperbaiki fungsi kesehatan. Mengandung satu atau lebih bahan berupa vitamin, mineral, asam amino atau bahan lain (berasal dari tumbuhan atau bukan tumbuhan) yang mempunyai nilai gizi dan/atau efek fisiologis, yang tidak dimaksudkan sebagai pangan[5].
             FDA's Center for Food Safety and Applied Nutrition (CFSAN) mendefinisikan dietary supplement sebagai kategori makanan. Namun, ada satu pengecualian jika suplemen makanan memenuhi definisi obat, itu adalah diatur sebagai obat. Makanan konvensional berbeda dengan supplemen makanan. Suplemen makanan adalah produk yang dimaksudkan untuk melengkapi makanan dan yang mengandung satu atau lebih bahan makanan. Pengguna supplemen biasanya bertujuan untuk mengimbangi makanan, kondisi medis, atau kebiasaan makan untuk membatasi asupan vitamin dan nutrisi, meningkatkan energi, untuk mendapatkan tidur yang baik, menangkal penurunan estrogen mendadak pada wanita menopause. Suplemen makanan tidak dimaksudkan untuk mengobati, mendiagnosa, mengobati, atau mengurangi efek dari penyakit. Namun, beberapa suplemen yang dapat mengurangi risiko penyakit tertentu. Sebagai contoh, suplemen asam folat dapat membuat klaim tentang mengurangi risiko cacat lahir pada otak dan sumsum tulang belakang5.
Selanjutnya FDA menegaskan Dietary supplement adalah produk yang berisi bahan makanan yang dimaksud untuk menambah nilai gizi (pelengkap). Komposisi dari zat makanan yang digunakan untuk melengkapi makanan dengan meningkatkan total asupan makanan. Suplemen membantu asupan nutrisi penting dalam makanan dan membantu mengurangi penyakit[6].
            Syarat dari makanan adalah memiliki gizi yang lebih besar. Makanan adalah lebih kompleks yang terdiri dari bermacam-macam mikronutrien yang dibutuhkan tubuh. Misalnya jeruk yang mengandung vitamin C dan juga mengandung beberapa beta karoten, kalsium dan nutrisi lainnya. Senyawa-senyawa ini bekerja sama untuk menghasilkan efek yang menguntungkan bagi manusia. Makanan juga memiliki serat essensial, dan sebagai zat pelindung yang penting bagi kesehatan. Berbeda dengan suplemen hanya memiliki satu mikronutrien. Supplements tidak dimaksudkan untuk menjadi pengganti makanan karena mereka tidak bisa meniru semua nutrisi dan manfaat dari seluruh makanan, seperti buah-buahan dan sayuran.[7]
Berbeda dengan suplemen, menurut Camire (1999) obat adalah produk yang digunakan untuk mendiagnosa, mengobati, mengurangi, mengobati, atau mencegah penyakit, sedangkan suplemen dimaksudkan untuk melengkapi makanan dengan meningkatkan total asupan zat. Kemudian juga proses persetujuan pemasaran dari obat memerlukan prosedur yang panjang dan ketat untuk menguji keamanan dan efektivitasnya oleh FDA.  Khasiat obat juga harus dibuktikan dengan riset yang memadai dan dicobakan pada manusia. Sedangkan suplemen dapat dijual walaupun tanpa dari persetujuan FDA secara formal dan tanpa bukti ilmiah yang ketat.[8]
            Karyadi (1998) menyebutkan bahwa suplemen makanan digolongkan sebagai nutraceutical, sedangkan obat-obatan masuk golongan pharmaceutical. Berbeda dengan obat-obatan yang harus diuji efektivitasnya secara klinis mengikuti serangkaian prosedur, suplemen makanan khasiatnya tidak perlu dibuktikan melalui uji klinis. Sampai saat ini pun jenis nutraceutical boleh dijual secara bebas tapi tidak boleh diklaim memiliki khasiat untuk mengobati penyakit seperti halnya obat-obatan. Di Indonesia suplemen makanan dimasukkan dalam golongan makanan, bukan obat. Peraturan Menteri Kesehatan No. 329/Menkes/Per/XII/76 menyatakan, makanan sebagai barang yang untuk dimakan dan diminum tetapi bukan sebagai obat.[9]
Nutraceutical menurut Bull et.al (2000) adalah kombinasi nutrisi dan efek pengobatan yang menjadi produk pilihan masyarakat. Nutraseutikal yang dikenal juga sebagai phytochemicals, medical foods, functional food, pharmafoods dan nutritional supplement, diartikan sebagai bahan alam dalam keadaan murni atau pekat, atau senyawa kimia bioaktif yang mempunyai efek meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit atau mengobati penyakit. Contoh nutraseutikal adalah beta karoten untuk mencegah serangan jantung, glukosamin untuk menangani osteoartritis.[10]
            Konsumsi suplemen sebagai pengganti obat tidak dapat dipertanggungjawabkan. Suplemen hanya bersifat membantu penyembuhan dan menambah nutrisi pasien. Seperti dalam penelitian Arisman (2010) didapatkan bahwa pemberian suplemen Zinc ditambah terapi standar membantu menurunkan stadium pada pasien ensefalopati hepatikum.[11] Penelitian Lawrenti (2015) didapatkan bahwa manfaat suplemen pada pasien kanker masih kontroversial,. Beberapa studi skala besar menunjukkan hasil positif, tetapi literatur lain menunjukkan hasil negatif. Penggunaan suplemen anti-oksidan diduga dapat mengganggu terapi kanker. Manfaat suplemen dan interaksinya dengan obat lain pun masih perlu dilakukan penelitian dan kajian lebih lanjut.[12]
Beberapa suplemen akan menjadi berbahaya jika dimakan bersamaan dengan obat. Berdasarkan penelitian Chiba (2015) di jepang bahwa 19.6% subjek menggunakan obat dan suplemen secara bersamaan. 10,8% pasien menggunakan suplemen untuk mengobati penyakit yang sama. 70,3% dari pasien tersebut tidak mengkomunikasikan penggunaan suplemen kepada dokter atau apoteker, karena menganggap penggunaan bersamaan suplemen dan obat-obatan adalah aman. Sebanyak 8,4% dari semua sampel menyadari adanya potensi efek samping yang berhubungan dengan suplemen. Insiden efek samping lebih tinggi pada pasien yang menggunakan suplemen untuk mengobati penyakit mereka.[13]

Simpulan
Dari uraian diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa Dietary supplement adalah bukan obat juga bukan termasuk makanan. Diatery supplement berada diantara keduanya. Diatery supplement tidak berfungsi sebagai mengobati penyakit lebih kepada pencegahan penyakit. Akan lebih berisiko lagi jika mengkonsumsi suplemen dan obat secara bersamaan tanpa persetujuan dari dokter dan apoteker. Diatery supplement dapat menambah nutrisi pada tubuh namun tidak bisa menjadi pengganti makanan sehari-hari.








Referensi
[1] Dickinson A, Mackay D (2014) : Health Habits And Other Characteristics Of Dietary Supplement Users: A Review. Nutrition Journal, 10.1186/1475-2891-13-14
[2] Suantara R, Rumiati S,M,N. (2010) Persepsi Remaja Tentang Diet Food Suplement dan Body Image. Jurnal Ilmu Gizi, Volume 2 Nomor 2 Agustus 2011 : 156 -165
[3] Wong, E,Y,L. Leung, C. Tang J et.al (2010) Use of dietary supplements by breast cancer patients undergoing conventional cancer treatment. Patient Preference and Adherence Journal. Published 17 November 2010 Volume 2010:4 Pages 407—414
[4] U.S National Institutes of Health (2011). Dietary Supplements: What You Need To Know. Dipetik November 03, 2015 dari https://ods.od.nih.gov/HealthInformation/DS_WhatYouNeedToKnow.aspx
[5] BPOM (2013) Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2013 Tentang Pengawasan Pemasukan Obat Dan Makanan Ke Dalam Wilayah Indonesia

[6]  U.S. FDA (Food and Drug Administration). What is a dietary supplement?.Dipetik November 03, 2015 dari http://www.fda.gov/Food/DietarySupplements/

[7]  Mayo Foundation for Medical Education and Research (2014). Supplements: Nutrition in a pill?. Dipetik 05 November 2015 dari http://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/nutrition-and-healthy-eating/in-depth/supplements/art-20044894
[8] Camire, E,M. Kanto, A,M. (1999) Dietary Supplements: Nutritional and legal Considerations. Scientific Status Summaries The Institute Of Food Technologists Chicago Vol 53 no. 7
[9] Karyadi, E (1998) Suplemen Makanan untuk Siapa?. Dipetik November 03, 2015 dari indomedia.com/intisari/1998/agustus
[10]  Bull, E., L. Rapport and B. Lockwood (2000), Nutraceutical, Pharm Journal. 255 (7104)
[11] Arisman (2010) Manfaat Pemberian Suplemen Zinc Terhadap Enselopati Hepatikum Pada Pasien Sirosis Hepatis. Tesis Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.
[12] Hastarita Lawrenti (2015) Penggunaan Suplemen pada Pasien Kanker. Opini Medical Department, PT Kalbe Farma Tbk., Jakar CDK-225/ vol. 42 no. 2, th. 2015
[13] Chiba. T, et al. (2015) Concomitant Use of Dietary Supplements and Medicines in Patients due to Miscommunication with Physicians in Japan. Nutrients Journal. ISSN 2072-6643 

Comments

Popular posts from this blog

Nine Month s

Medan sebuah kota yang tak pernah terbesit sebelumnya Sebuah kota maju kota metropolitan seperti Jakarta namun seperti ditinggalkan Bertemu dengan delapan mahasiswa  yang menjadi sahabat bagiku Membangun FKM bersama-sama Lalu datanglah Bahagia dan rintangan datang bergantian Hati dan pikiran semuanya termuara pada mereka Sampai segala puncak cobaan yang tak terbendung Perlakukan manusia zalim yg tak bisa tercena olah akal sehat Fitnah lalu lalang menghantam tak kunjung usai  Terkadang berbuat baik, tak mesti disambut gayung Malah lebih banyak ditiupkan ombak yg menerjang sampan kecil hingga terbalik Menoleh kembali perjuangan Rasulullah, Kehinaan ini tak seberapa dibandingkan dgn kisah sirah nabawiyah. Mencoba membingkai skenario Tuhan Hendak derajat mana yang akan dinaikkan Apakah harus melawan atau diamkan Bulir airmata menitik deras namun hanya sajadah dan AlQuran saksi kesendirian Hanya bertumpu pada keyakinan, akhir kisah ini, Allah pasti akan memb...

Kualitas Pendidikan Di Indonesia

Ada 3 artikel bagus yg ditulis oleh Elizabeth Pisani tentang kualitas pendidikan di Indonesia. Pisani adalah jurnalis Reuters yg banyak menulis tentang Indonesia. Salah satu bukunya, 'Indonesia Etc', adalah buku bagus yg mendapat banyak pengakuan internasional Dalam tulisannya, Pisani menyoroti prestasi anak2 Indonesia dalam tes PISA. PISA adalah tes yg diadakan OECD untuk menguji kemampuan anak2 usia 15 tahun di puluhan negara dalam bidang sains (science), matematika (math) dan membaca (reading). Tes ini diadakan 3 tahun sekali. Di 2 tes terakhir pada tahun 2012 dan 2015, Indonesia mendapat peringkat 60-an dari 70 negara di ketiga bidang yg diujikan. Jauh di bawah negara2 tetangga di ASEAN seperti Thailand, Malaysia, Vietnam, apalagi Singapura. Contohnya: hasil tes 2015 menunjukkan, 55% anak Indonesia punya kemampuan sangat buruk di tes membaca. Semua soal tes PISA sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia loh padahal.. 😅 Reading comprehension mereka ternyata sangat rendah....

Research Article vs. Review Article

RESEARCH ARTICLE A research article describes a study that was performed by the article’s author(s). It explains the methodology of the study, such as how data was collected and analyzed, and clarifies what the results mean. Each step of the study is reported in detail so that other researchers can repeat the experiment. The research article will be based on the analysis and interpretation of this data.  To determine if a paper is a research article, examine its wording. Research articles describe actions taken by the researcher(s) during the experimental process. Look for statements like “we tested,” “I measured,” or “we investigated.” Research articles also describe the outcomes of studies. Check for phrases like “the study found” or “the results indicate.” Next, look closely at the formatting of the article. Research papers are divided into sections that occur in a particular order: abstract, introduction, methods, results, discussion, and references. REVIEW ARTIC...